Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ancaman penyakit Ganoderma dan serangan kumbang tanduk terhadap perkebunan kelapa sawit rakyat di Kalimantan Barat kian menjadi sorotan serius dalam agenda penguatan sektor sawit nasional berbasis petani.
Kondisi ini dinilai berpotensi menekan produktivitas jika tidak ditangani secara terstruktur dan berkelanjutan.
Isu tersebut menjadi fokus utama dalam workshop yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) di Universitas Tanjungpura, Pontianak, yang mempertemukan petani sawit se-Kalimantan Barat dengan akademisi, pemerintah, dan pelaku industri.
Baca Juga: Agrinas Palma Dorong Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat untuk Dongkrak Produktivitas
Kegiatan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) ini menekankan pentingnya pengendalian hama dan penyakit sebagai kunci menjaga keberlanjutan produksi sawit rakyat, sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai pasok industri.
Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung, menegaskan bahwa Ganoderma telah menjadi ancaman nyata yang membutuhkan respons cepat dan kolaboratif, terutama di daerah sentra sawit seperti Kalimantan Barat.
"Kalbar menjadi salah satu daerah yang serius membahas pengendalian Ganoderma dan kumbang tanduk. Ini penting untuk keberlanjutan sawit rakyat ke depan," ujarnya dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Selain aspek teknis, Gulat juga menyoroti posisi tawar petani yang masih rentan dalam fluktuasi industri sawit. Ia menekankan perlunya keberpihakan agar petani tidak terus berada di posisi lemah.
"Kita ingin petani sawit menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mendapatkan harga yang adil," katanya.
Baca Juga: BPDP Dorong UMKM Terlibat dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat
Dari sisi daerah, Ketua DPW Apkasindo Kalbar, Indra Rustandi, menilai persoalan utama sawit rakyat tidak hanya pada serangan hama, tetapi juga pada rendahnya kapasitas petani dalam mengelola kebun secara modern dan berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia, terutama regenerasi petani muda yang dinilai masih terbatas akibat minimnya akses pendidikan dan pelatihan.
"Fokus utama kami adalah sumber daya manusia dan regenerasi petani sawit," ujarnya.
Workshop ini juga menghadirkan akademisi dan praktisi industri untuk memberikan pendampingan teknis pengendalian penyakit dan hama, sebagai upaya meningkatkan produktivitas kebun rakyat di lapangan.
Baca Juga: Apkasindo Dorong Biomassa Sawit Jadi Energi Alternatif
Apkasindo menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menahan laju ancaman produksi, sekaligus mendukung agenda nasional penguatan biodiesel berbasis sawit di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












