kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Meraup Keuntungan dari Bisnis Bioethanol


Senin, 02 Februari 2009 / 13:31 WIB


Reporter: Aprillia Ika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Gara-gara harga bahan bakar minyak (BBM) melorot, usaha bioethanol tak lagi dilirik. Padahal, potensi bioethanol tak hanya untuk industri bahan bakar semata. Prospek usaha bioethanol juga tetap bagus untuk bahan baku industri kimia, kosmetik, kertas serta farmasi.

Mungkin belum banyak yang tahu jika bioethanol pada dasarnya sama saja dengan alkohol. Namun, bioethanol punya kadar alkohol lebih dari 90% lantaran penyulingannya menggunakan alat khusus.

Dengan kadar alkohol di atas 90%, maka bioethanol mampu diserap oleh industri sebagai bahan baku. Misalkan saja untuk industri farmasi, bioethanol yang dicampurkan dengan tisu akan menjadi tisu antiseptik yang digunakan sebelum dokter menyuntik pasiennya. Untuk industri kosmetik, ethanol digunakan untuk bahan dasar kosmetik pembersih wajah.

"Sayangnya, sampai detik ini, banyak orang mengira bioethanol hanya digunakan untuk campuran BBM semata," ujar Fandy Susanto, pemilik PT Mega Makmur Lestari yang memproduksi bioethanol di Ciawi, Bogor.

Menurut Fandy, proses pembuatan bioethanol terbilang mudah. Untuk bahan bakunya, Fandy menggunakan tetes tebu (molasses). "Saya tidak menggunakan bahan baku singkong karena harus menanam dulu kalau mau dapat harga murah," ujarnya.

Untuk satu liter bioethanol, memerlukan sekitar empat kilo molasses. Molasses sendiri merupakan limbah pabrik gula yang bisa didapat dengan harga antara Rp 800 sampai Rp 1200 per kilo.

Empat kilo molasses tersebut kemudian dicampur air sebanyak 16 liter atau dengan perbandingan takaran 1 : 4. Lalu, dicampur dengan pupuk urea sebanyak dua gram, pupuk NPK satu gram dan ragi sebanyak empat gram.

Campuran tersebut lantas disimpan dalam wadah tertutup selama tiga hari untuk proses fermentasi. Wadah tertutup tadi tidak boleh tercampur udara luar. Sehingga selang pembuangan gasnya harus dimasukkan ke dalam air.

Setelah tiga hari, hasil fermentasi tersebut dimasak di dalam tungku bernama evaporator. Campuran tersebut bakal menguap di suhu 80 derajat. Uap campuran tadi langsung disuling di dalam alat bernama destilator yang terhubung dengan evaporator. Uap hasil sulingan campuran molasses tadi yang kita namakan bioethanol.

Menurut Fandy, saat ini banyak pihak menawarkan mesin pembuat bioethanol yang terdiri atas evaporator dan destilator untuk skala rumahan dan UKM. Fandy sendiri membuat mesin tersebut. Harganya mulai dari Rp 50 juta per unit sampai Rp 100 juta per unit. Mesin tersebut dapat memproduksi 50 liter sampai 100 liter bioethanol sekali proses.

Biaya yang diperlukan untuk sekali proses bioethanol tersebut hanya memakan biaya Rp 7.000. Oleh Fandy, produknya dijual dari harga Rp 11.000 sampai Rp 15.000 tergantung industri mana yang menyerapnya. "Saat ini produk saya laku untuk kompor bioethanol," ujar Fandy yang saban bulan memproduksi 100 liter bioethanol ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×