kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Moratorium lahan, Gapki ingatkan kontribusi CPO


Minggu, 17 April 2016 / 17:35 WIB


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meminta penjelasan dari pemerintah terkait kebijakan yang disampaikan Presiden Joko Widodo memoratorium pembukaan lahan baru tanaman kelapa sawit. Gapki mengingatkan agar pemerintah juga turut mempertimbangkan kontribusi sawit pada pemasukan devisa negara yang cukup besar.

Juru Bicara Gapki Tofan Mahdi bilang, pihaknya sedang dan terus membangun komunikasi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta pihak Istana. Tujuannya adalah untuk mendengar penjelasan lebih detail lagi dari pemerintah soal kebijakan moratorium penanaman kelapa sawit di lahan baru.

"Yang bisa kami sampaikan adalah bahwa sektor kelapa sawit adalah sektor strategis yang memberikan sumbangan ekspor hingga US$ 19 miliar (2015) dan angka ini jauh lebih tinggi dari devisa dari ekspor migas (sekitar US$ 12 miliar)," ujar Tofan, Minggu (17/4)

Tofa menjelaskan, Indonesia adalah produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia dengan produksi mencapai 31,5 juta ton (2015). Sektor perkebunan kelapa sawit juga menyerap tenaga kerja dan melibatkan petani kelapa sawit hingga enam juta jiwa.

Selain itu, sektor perkebunan kelapa sawit juga mendorong pengembangan wilayah-wilayah di daerah pinggiran. Bahkan ia mengingatkan, kalau Jokowi juga pernah mengakui bahwa perkebunan kelapa sawit adalah sektor strategis nasional dan harus terus dipertahankan. "Kami akan terus memantau perkembangan informasi terkait pernyataan Bapak Presiden tersebut," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×