kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,89   -31,85   -4.36%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Multi Bintang berencana ekspor minuman non alkohol


Sabtu, 26 Maret 2016 / 17:35 WIB
Multi Bintang berencana ekspor minuman non alkohol

Reporter: Emir Yanwardhana | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. PT Multi Bintang Indonesia Tbk makin giat mengembangkan bisnis minuman non alkohol. Ini tak lain strategi produsen bir Bintang tersebut dalam menyiasati jalur distribusi minuman beralkohol yang menyempit sejak tahun lalu.

Strategi Multi Bintang untuk mendongkrak penjualan minuman non alkohol yakni dengan menggeber varian baru. "Yang baru, kami akan meluncurkan rasa baru Green Sands di kuartal dua tahun 2016," ungkap Presiden Komisaris PT Multi Bintang Indonesia Tbk Cosmas Batubara kepada KONTAN, Kamis (24/3).

Produk baru tersebut akan menambah deret varian produk minuman non alkohol Multi Bintang. Patut dicatat, sejak awal tahun ini, perusahaan tersebut rajin menambah produk minuman non alokohol.

Pada Februari 2016, Multi Bintang memperkenalkan varian baru dari Bintang Radler, yakni Bintang Radler Lemon 0,0%. Lalu, sebelumnya pada akhir Januari 2016, perusahaan itu mengabarkan rencana memproduksi minuman ringan alias soft drink merek Fayrouz di Indonesia.

Multi Bintang meneken perjanjian lisensi merek dagang Fayrouz dengan Premium Beverage International B.V., sister company di bawah induk usaha yang sama, Heineken International B.V.

Perusahaan berkode saham MLBI di Bursa Efek Indonesia itu harus membayar royalti atas penggunaan merek hingga tahun 2020. Besarannya berjenjang per tahun, dari 0% hingga 5%.

Multi Bintang berencana memproduksi Fayrouz di pabrik Sampang Agung, Mojokerto, Jawa Timur. Nanti, minuman malt berkarbonasi tersebut akan hadir dalam rasa nanas dan pir.

Multi Bintang tak cuma mengandalkan pasar dalam negeri. Mereka juga berniat menjual produk minuman non alkohol ke pasar mancanegera.

"Kami melihat ada celah pasar untuk non alkohol seperti yang dijual di Mesir, bisa Bintang 0 alkohol dan Radler campur orange," kata Cosmas.

Meski yakin dengan strategi yang diterapkan, Multi Bintang belum mau membeberkan target penjualan minuman non alkohol.

Dus, tak ketahuan proyeksi komposisi penjualan ekspor dan lokal tahun mereka pada tahun ini. Yang pasti strategi memaksimalkan bisnis minuman non alkohol tak lantas membikin Multi Bintang mengabaikan bisnis utama, yaitu minuman alkohol.

"Pasar bir Bintang tetap jalan walaupun tahun 2015 kemarin terganggu adanya larangan dari Permendag itu," aku Cosmas.

Masih tunda ekspansi

Mengingatkan saja, tahun lalu Kementerian Perdagangan merilis Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 6/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol. Aturan berlaku sejak April 2015.

Untuk mengerek bisnis minuman alkohol, Multi Bintang juga menerapkan strategi penambahan varian. Pada Desember 2015 lalu, mereka merilis Bintang Radler Grapefruit 2%. Varian anyar Bintang Radler itu melengkapi Bintang Radler Lemon 2% yang sudah meluncur pada tahun 2014.

Hanya saja, ikhtiar Multi Bintang meningkatkan kinerja pada tahun ini, tak berbanding lurus dengan rencana ekspansi produksi. Perusahaan tersebut belum berencana melanjutkan rencana ekspansi pabrik baru di Sampang Agung, Mojokerto.

Padahal Multi Bintang sudah menggelar ground breaking alias penanaman tinga pancang pada Mei 2014. Proyek tersebut menelan investasi Rp 653 miliar.

"Iklimnya kurang kondusif untuk investasi," alasan Cosmas. Maka dari itu, pada tahun ini Multi Bintang hanya akan memanfaatkan fasilitas produksi yang sudah ada.

Perusahaan tersebut sudah memiliki dua pabrik minuman beralkohol di Sampang Agung dan Tangerang. Sementara jumlah pabrik minuman non alkohol cuma ada satu. Lokasinya juga di Sampang Agung. Kapasitas produksi pabrik itu 500.000 hektoliter per tahun.




TERBARU

Close [X]
×