kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.155   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.549   -44,70   -0,59%
  • KOMPAS100 1.040   -10,07   -0,96%
  • LQ45 743   -12,35   -1,63%
  • ISSI 274   -1,48   -0,54%
  • IDX30 399   -2,21   -0,55%
  • IDXHIDIV20 485   -4,24   -0,87%
  • IDX80 116   -1,48   -1,26%
  • IDXV30 139   0,33   0,24%
  • IDXQ30 128   -1,43   -1,11%

Multimoda, Supply Chain, dan AI Dorong Efisiensi Logistik


Selasa, 21 April 2026 / 09:38 WIB
Diperbarui Selasa, 21 April 2026 / 09:41 WIB
Multimoda, Supply Chain, dan AI Dorong Efisiensi Logistik
ILUSTRASI. Angkutan Logistik (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri logistik global tengah menghadapi tekanan berlapis. Kenaikan biaya energi, ketegangan geopolitik yang memicu volatilitas rantai pasok, hingga pergeseran pola perdagangan dunia mendorong tarif pengiriman naik di tengah keterbatasan kapasitas. Alhasil, biaya logistik kian mahal dan akses distribusi menjadi lebih terbatas.

Di kawasan Asia yang menyumbang lebih dari 40% perdagangan global, pelaku industri mulai beradaptasi melalui penguatan rantai pasok berbasis transportasi multimoda dan teknologi. Integrasi moda laut, udara, darat, hingga kereta api, yang ditopang digitalisasi serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), dinilai menjadi kunci menjaga efisiensi dan ketahanan distribusi.

Senior Vice President FIATA sekaligus Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, tekanan global justru menjadi momentum bagi pelaku industri untuk mempercepat transformasi logistik.

“Pendekatan transportasi multimoda bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar sistem logistik lebih kompetitif dan resilien. Namun integrasi fisik saja tidak cukup, harus didukung teknologi, khususnya AI,” ujar Yukki dalam siaran pers, Selasa (21/4).

Baca Juga: Pakai Solar Subsidi, Angkutan Logistik Tidak Terdampak Lonjakan Harga Solar Industri

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan kontribusi lebih dari 35% terhadap PDB ASEAN, Indonesia memegang peran strategis dalam rantai pasok regional dan global. Meski demikian, tantangan struktural masih besar. Biaya logistik nasional relatif tinggi, sementara ketergantungan pada transportasi darat masih mencapai sekitar 90%.

Yukki menambahkan, pemanfaatan AI dapat menjadi game changer dalam meningkatkan kinerja logistik nasional. Teknologi ini memungkinkan pelaku usaha melakukan peramalan permintaan (demand forecasting) lebih akurat, optimalisasi rute distribusi, hingga analisis prediktif untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok.

“Dengan AI, pelaku usaha tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, tetapi mampu mengantisipasi dan mengelola risiko secara proaktif. Dampaknya langsung pada efisiensi biaya dan kualitas layanan,” jelasnya.

Di sisi lain, integrasi digital melalui platform seperti National Logistics Ecosystem (NLE) menjadi langkah strategis untuk meningkatkan visibilitas rantai pasok dari hulu ke hilir. Penguatan NLE berbasis AI diyakini dapat menekan biaya transaksi, mempercepat distribusi, serta meningkatkan transparansi antar pelaku usaha.

Lanjut Yukki, dengan kombinasi multimoda, integrasi supply chain, dan pemanfaatan AI, Indonesia punya peluang besar mempercepat transformasi logistik. Ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga peningkatan daya saing dalam rantai pasok global.

Baca Juga: KKP Dorong Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional ​Jadi Standar Wajib

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×