Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU International) melihat transisi menuju ekonomi hijau atau greenomics membuka peluang ekonomi bernilai miliaran dolar bagi Indonesia.
Untuk menangkap peluang tersebut, MUTU mendorong penguatan standar dan tata kelola dalam implementasi ekonomi hijau, mulai dari pasar karbon, biodiversity credit, hingga ekonomi sirkular di sektor manufaktur.
MUTU akan menggelar MUTU Greenomics Festival 2026 pada 24 Agustus 2026 di Menara Hijau, Jakarta. Forum tersebut akan mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, asosiasi bisnis, hingga inovator teknologi untuk membahas peluang dan tantangan dalam transisi ekonomi hijau.
Baca Juga: Mutuagung Lestari (MUTU) Usulkan Sandiaga Uno Jadi Presiden Komisaris dalam RUPSLB
MUTU menegaskan bahwa transisi Greenomics memerlukan standar yang "ber-MUTU", memiliki akuntabilitas tinggi, regulasi transparan, serta implementasi bisnis yang berdampak nyata.
"Hal ini penting agar produk dan komoditas Indonesia memiliki daya saing tinggi dan tidak terkena hambatan perdagangan berbasis emisi di pasar global," ujar Investor MUTU, Sandiaga Salahuddin Uno dalam keterangannya, Jumat (21/8).
MUTU menilai potensi ekonomi hijau Indonesia cukup luas, terutama dari pengembangan likuiditas pasar karbon, penerapan biodiversity credit, serta ekonomi sirkular pada rantai pasok industri manufaktur. Namun, pengembangan sektor tersebut membutuhkan kepastian regulasi dan standar integritas yang kuat.
Dalam forum tersebut, Sandiaga Uno selaku Chairman PT Samala Serasi Utama dijadwalkan menjadi salah satu keynote speaker bersama Menteri Lingkungan Hidup M. Jumhur Hidayat.
MUTU Greenomics Festival 2026 akan menghadirkan dua sesi dialog interaktif yang mempertemukan pelaku usaha, asosiasi bisnis, investor, akademisi, hingga pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk membahas tantangan dan peluang dalam mendorong ekonomi hijau di Indonesia.
Sesi pertama bertajuk “Capitalizing Carbon Markets, Biodiversity, and Clean Energy Solutions” akan membahas langkah praktis serta solusi teknologi dalam pengelolaan aset karbon, konservasi biodiversitas, dan percepatan transisi energi.
Sesi ini akan menghadirkan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, CEO Landscape Indonesia Agus Sari, CEO Forest Carbon Jeffrey Chatellier, serta Founder & CEO Fairatmos Natalia Rialucky Marsudi. Sementara itu, sesi kedua mengangkat tema “Enabling Policy, Sustainable Investment, and Corporate Readiness for Greenomics”.
Diskusi ini akan menyoroti pentingnya kepastian hukum, akses terhadap pembiayaan hijau melalui skema ESG dan green finance, kesiapan korporasi maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta penerapan ekonomi sirkular sebagai bagian dari upaya mencegah praktik greenwashing.
Sesi tersebut akan diisi oleh Chairman Apindo Shinta Kamdani, Country Manager Indonesia & Timor-Leste IFC Euan Marshall, Pakar Hukum & Keberlanjutan Rio Christiawan, serta Chairperson of ICEST Institute Suharman Noerman.
Melalui forum tersebut, para peserta yang terdiri dari lebih dari 100 jajaran direksi korporasi, perwakilan asosiasi bisnis seperti Kadin dan Apindo, akademisi, hingga investor diharapkan dapat merumuskan rekomendasi taktis untuk menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam proses transisi menuju ekonomi hijau, terutama dari sisi regulasi dan pembiayaan.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, investor, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai penting untuk memastikan agenda transisi hijau tidak berhenti pada komitmen, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam implementasi nyata di sektor usaha.
MUTU Greenomics Festival 2026 diselenggarakan oleh PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU International) pada Senin, 24 Agustus 2026, di Menara Hijau, Jakarta. Langkah tersebut juga diharapkan dapat mendukung pencapaian peta jalan Net Zero Emission (NZE) Indonesia sekaligus menjaga agar agenda dekarbonisasi tetap berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Asap Karhutla Makin Parah, Kemenhub: Sejumlah Penerbangan di Kalimantan Terganggu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














