kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 16.993   -143,00   -0,83%
  • IDX 7.207   236,13   3,39%
  • KOMPAS100 996   38,18   3,99%
  • LQ45 727   25,46   3,63%
  • ISSI 257   7,51   3,01%
  • IDX30 396   13,68   3,58%
  • IDXHIDIV20 484   12,04   2,55%
  • IDX80 112   4,06   3,76%
  • IDXV30 133   2,45   1,88%
  • IDXQ30 128   3,80   3,06%

Nilai Ekspor Indonesia Capai US$ 22,17 Miliar pada Februari 2026


Rabu, 08 April 2026 / 11:23 WIB
Nilai Ekspor Indonesia Capai US$ 22,17 Miliar pada Februari 2026
ILUSTRASI. Ekspor CPO Januari 2026 meningkat (ANTARA FOTO/Angga Palguna)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatatkan kinerja ekspor yang moderat pada Februari 2026.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan, nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 sebesar US$ 22,17 miliar, tumbuh tipis 0,05% secara bulanan dari Januari 2026. Secara tahunan, ekspor hanya meningkat 1,01% dibanding Februari tahun lalu.

Pertumbuhan ini didorong ekspor nonmigas yang naik 1,30% di tengah penurunan ekspor migas sebesar 4,25% secara tahunan. 

Baca Juga: Konten Kreatif Jadi Sumber Penghasilan Baru Bagi Affiliator di Ekosistem E-Commerce

Adapun secara kumulatif, pada Januari–Februari 2026, total ekspor mencapai US$ 44,32 miliar atau tumbuh 2,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kinerja tersebut ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 2,82% menjadi US$ 42,35 miliar, sementara ekspor migas turun 9,75% ke level US$ 1,97 miliar.

Sepanjang Januari–Februari 2026, struktur ekspor Indonesia secara kumulatif masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi 83,61% terhadap total ekspor. Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya menyumbang 10,08%, sektor migas 4,45%, serta pertanian 1,86%.

Pertumbuhan ekspor nonmigas pada Januari–Februari 2026 didorong ekspor sektor industri pengolahan yang meningkat sebesar 6,69% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun 25,99% serta sektor pertambangan dan lainnya turun 16,34%.

Di sisi lain, komoditas nonmigas yang mencatatkan pertumbuhan ekspor tertinggi, di antaranya timah dan barang daripadanya (HS 80) yang melonjak 89,01%, nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 55,97%, serta lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) yang tumbuh 28,79%.

Budi mengatakan, peningkatan ekspor sejumlah komoditas utama tidak terlepas dari faktor harga di pasar global.  “Harga timah tercatat melonjak 59,87% dan nikel naik 13,88% selama Januari–Februari 2026. Peningkatan harga ini mendorong kenaikan nilai ekspor kedua komoditas tersebut,” terangnya dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (8/4/2026).

Sementara itu, peningkatan ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati, kata Budi, lebih didorong oleh permintaan global. Di tengah penurunan harga minyak kelapa sawit sebesar 4,27% dari periode yang sama tahun lalu, volume ekspornya justru meningkat signifikan sebesar 34,46%.

Berdasarkan pasar ekspornya, China, Amerika Serikat (AS), dan India masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan total nilai mencapai US$ 18,57 miliar atau 43,85% dari total ekspor nonmigas nasional.

Namun demikian, pertumbuhan ekspor tertinggi justru terjadi di pasar nontradisional. Uni Emirat Arab mencatatkan kenaikan sebesar 68,62%, diikuti Spanyol 54,63%, dan Mesir 38,77%. Secara kawasannya, ekspor ke Asia Tengah lainnya yang meliputi Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan melonjak paling tinggi hingga 146,11%, disusul Kawasan Karibia sebesar 22,26%, dan Afrika Utara 22,14%.

Baca Juga: ALFI: Perlu Kajian Mendalam soal Kebijakan Baru di Pelabuhan Tanjung Priok

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Video Terkait



TERBARU

[X]
×