Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Niramas Utama Tbk (JELI) memilih memperbesar investasi ketika industri manufaktur masih dibayangi pelemahan permintaan. JELI meyakini konsumsi makanan dan minuman tetap tumbuh sehingga ekspansi menjadi strategi untuk memperkuat bisnis dalam jangka panjang.
Optimisme tersebut menjadi landasan JELI melantai di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026. Mayoritas dana hasil penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) langsung diarahkan untuk memperbesar kapasitas produksi sekaligus memperkuat fondasi bisnis beberapa tahun mendatang.
Sekadar mengingatkan, JELI melepas sekitar 266 juta saham dengan harga Rp 900 per saham. Dengan demikian, JELI berhasil menghimpun dana sebesar Rp 239,4 miliar sebelum dikurangi oleh biaya emisi.
Didirikan pada 1990, JELI dikenal sebagai produsen makanan penutup berbasis kelapa melalui merek INACO. Produk yang dipasarkan mencakup nata de coco, jelly, pudding, minuman yang telah dijual baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Baca Juga: Mandatori B50 Berpotensi Tambah Beban Operasional Industri Tambang Batubara
Saat ini, JELI mengoperasikan empat fasilitas produksi yang berada di Bekasi, Pandaan, Pontianak, dan Sukabumi. JELI juga memiliki lebih dari 115 produk aktif yang didistribusikan melalui 251 titik distribusi di seluruh Indonesia.
Jangkauan pasar JELI tidak hanya mengandalkan penjualan domestik. Produk INACO telah dipasarkan ke lebih dari 30 negara dengan tujuan utama antara lain Jepang, Arab Saudi, India, Filipina, Amerika Serikat hingga sejumlah negara Eropa dan Amerika Latin.
Menariknya, menjelang IPO JELI justru membukukan lonjakan laba ketika penjualan sedikit menurun. Pada 2025, laba bersih meningkat sekitar 220% menjadi Rp 38,4 miliar, sedangkan penjualan turun 4,49% menjadi Rp 753,01.
Direktur Niramas Utama Adhi S. Lukman menjelaskan, peningkatan laba tersebut bukan berasal dari kenaikan harga jual. JELI memilih memperbaiki kualitas penjualan melalui evaluasi menyeluruh terhadap portofolio produk yang dimiliki.
"Kami melakukan review terhadap portofolio produk dan unit yang kurang produktif, kemudian kita lakukan penyesuaian. Ada beberapa SKU yang kita hentikan dan langkah tersebut justru memberikan dampak positif terhadap struktur kinerja menjelang IPO," ujarnya belum lama ini.
Langkah tersebut membuat JELI lebih fokus menjual produk dengan margin lebih tinggi dibandingkan mengejar volume semata. Efisiensi itu ikut mendorong perbaikan profitabilitas meski kondisi daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Strategi efisiensi juga dilakukan melalui digitalisasi proses produksi yang telah dimulai sejak beberapa tahun lalu. JELI memanfaatkan sistem SAP, otomatisasi lini produksi, hingga penggunaan panel surya untuk menekan biaya operasional.
Baca Juga: Paramount Petals Luncurkan Klaster Mimosa, Harga Mulai Rp 1,6 Miliar
Setelah struktur bisnis dinilai lebih sehat, JELI mulai mengakselerasi ekspansi melalui dana IPO. Sekitar 51% dana hasil penawaran saham digunakan untuk memperbesar kapasitas produksi melalui anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera.
Adhi mengatakan, investasi tersebut difokuskan pada pembelian mesin produksi baru. Langkah itu ditempuh meski Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia masih berada pada fase kontraksi.
"Kami beranggapan investasi itu jangka panjang. Meskipun jangka pendek ada gangguan, saya yakin industri makanan dan minuman potensinya masih luar biasa,” ucapnya.
Sekitar 70% belanja modal diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, dan efisiensi. Sebagian besar investasi tersebut digunakan untuk pengembangan kategori produk baru yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih tinggi.
Produk yang menjadi fokus utama adalah gummy candy. JELI melihat kategori tersebut memiliki peluang berkembang lebih cepat dibandingkan kategori makanan penutup konvensional yang selama ini menjadi bisnis inti.
Menurut Adhi, pengembangan gummy candy dilakukan setelah mempelajari tren konsumsi di berbagai negara. Produk tersebut dirancang memiliki diferensiasi rasa, kualitas, dan aspek kesehatan sehingga dapat diterima seluruh kelompok usia.
“Kami melakukan studi ke berbagai pasar internasional dan melihat peluang besar di kategori gummy candy. Target kami menghadirkan produk yang bisa dinikmati semua segmen usia,” jelas Adhi.
Selain memperbesar kapasitas produksi, sebagian dana IPO juga digunakan untuk meningkatkan otomatisasi dan sistem logistik. Investasi tersebut diharapkan meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus mempercepat proses produksi.
JELI menargetkan, kapasitas produksi meningkat sekitar 25% hingga 26% pada tahun ini dibandingkan sebelum ekspansi. Namun dampak penuh investasi baru diperkirakan baru akan terlihat setelah seluruh mesin selesai dipasang pada akhir 2027.
"Investasi yang baru selesai kira-kira akhir 2027. Jadi 2028 ke depan peningkatannya akan lebih tinggi," kata Adhi.
Seiring bertambahnya kapasitas, JELI juga memperluas portofolio produk. Setelah meluncurkan Mogo Choco, JELI menyiapkan beberapa produk baru yang dijadwalkan hadir pada September dan November 2026.
Pasar ekspor menjadi sasaran berikutnya yang ingin diperbesar. Meski saat ini produk JELI telah masuk ke lebih dari 30 negara, kontribusi ekspor terhadap penjualan masih relatif kecil dibandingkan pasar domestik.
Adhi menyebut, kategori gummy candy berpotensi memperbesar kontribusi ekspor dalam beberapa tahun mendatang. India, Filipina, Jepang, Arab Saudi, hingga sejumlah negara Eropa menjadi pasar yang akan terus diperluas.
"Kami yakin ekspor akan meningkat karena potensi produk baru jauh lebih besar," tuturnya.
Untuk 2026, JELI membidik pertumbuhan penjualan sekitar 26% dibandingkan tahun sebelumnya. JELI juga menargetkan laba bersih meningkat seiring tambahan kapasitas, peluncuran produk baru, serta peningkatan efisiensi operasional.
Baca Juga: Vietnam Bidik Wisatawan Muslim, Indonesia Jadi Pasar Potensial
Adhi mengakui daya beli masyarakat dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi tantangan utama industri makanan dan minuman. Namun dia tetap optimistis permintaan akan terus tumbuh.
“Karena produk pangan merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Meski begitu, tantangan datang memang berasal dari daya beli dan geopolitik. Namun kami yakin orang tetap butuh makan minum,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














