kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Omzet mamin jabodetabek hilang Rp 200 miliar


Selasa, 21 Januari 2014 / 18:01 WIB
Omzet mamin jabodetabek hilang Rp 200 miliar
ILUSTRASI. Ramalan BMKG cuaca hari ini Rabu (31/8) di Jakarta dan sekitarnya cerah hingga hujan sedang. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar.


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Cuaca buruk yang melanda beberapa kawasan di Indonesia menimbulkan dampak cukup besar bagi industri makanan dan minuman (mamin) dalam negeri. Untuk kawasan Jabodetabek saja, musibah banjir diprediksi menekan omzet sampai 25%.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman bilang, penurunan omzet ini akibat sulitnya distribusi produk dari pabrik sampai ke pasar karena terhadang banjir. Sehingga, merembet pada turunnya konsumsi.

Alhasil, Adhi memperkirakan pelaku indsustri mamin di Jabodetabek kehilangan omzet sebesar Rp 200 miliar tiap hari. "Di hari normal omzet untuk kawasan ini mencapai Rp 800 miliar," katanya, Selasa (21/1).

Tak hanya distribusi ke konsumen, produsen makanan minuman juga harus menanggung potensi kerugian lantaran distribusi bahan baku dari daerah juga tersendat.

Misalnya, pengangkutan bahan segar buah dan daging dari Jawa Tengah, saat ini memakan waktu sampai empat hari. Padahal biasanya hanya satu setengah hari. "Padahal rata-rata dalam lima hari bahan baku segar ini 50% di antaranya akan busuk," ujar dia.

Belum lagi menghitung kerugian karena pabrik tidak beroperasi bisa akibat buruh yang tak bisa masuk karena banjir, atau lantaran tak ada pasokan listrik karena pemadaman yang dilakukan PLN di beberapa wilayah.

Meski kerugian ada di depan mata, menurut Adhi, produsen mamin tidak menaikan harga jual mereka. Pasalnya masalah tersebut hanya bersifat temporer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×