Reporter: Nadia Citra Surya |
JAKARTA. Kabar soal bagi hasil tarif short message service (SMS) antar operator nampaknya tidak akan berjalan mulus. Soalnya beberapa operator nampak tak satu suara. Tak hanya operator kecil, namun operator besar seperti Indosat pun menganggap rencana tersebut justru akan memercepat kematian layanan SMS di Indonesia.
"Jika harus ada bagi hasil biaya SMS dengan operator yang menerima SMS, maka biaya record bisa sangat tinggi," ujar Teguh Prasetya Mukti, Group Head Brand Marketing PT Indosat Tbk, Selasa (9/3). Menurutnya, beban biaya tersebut bisa mendongkrak biaya pengiriman SMS yang pada akhirnya bakal membebani konsumen.
Soalnya lewat konsep sharing pendapatan interkoneksi tersebut, operator yang melayani pengiriman SMS juga harus memberikan bagi hasil terhadap operator yang menerima SMS. Alasannya, operator yang menerima juga menyediakan sejumlah space untuk melayani penerimaan SMS itu.
Sementara itu Telkomsel dengan pelanggan terbanyak di Indonesia bersikeras skema bagi hasil harus diterapkan. Ricardo Indra, GM Corporate Communications Telkomsel mengatakan bahwa layanan SMS antar operator harus dilihat sebagai domain hubungan antar operator yang perlu untuk difasilitasi oleh regulator. "Dengan aturan biaya interkoneksi SMS antar operator maka akan terbentuk kondisi kompetisi yang kondusif dan fair di antara operator," cetusnya.
Namun, Teguh membantah hal tersebut. Menurutnya SMS adalah sekedar value added service dan bukan basic service yang diberikan oleh operator. Ia justru khawatir, operator akan terbebani biaya untuk mencatat setiap SMS yang dikirimkan pelanggannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)