Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi PT Agrinas Pangan Nusantara memborong total 105.000 unit kendaraan niaga atau mobil pikap dari India telah memantik polemik. Impor mobil secara utuh atau Completely Built Up (CBU) ini dikhawatirkan semakin menekan industri otomotif dan komponen di dalam negeri yang sedang tertatih untuk kembali pulih.
Agrinas mengimpor mobil pikap dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Koperasi Merah Putih). Impor ini terdiri dari 35.000 unit mobil pikap 4x4 produksi Mahindra Ltd., serta 70.000 unit dari Tata Motors yang mencakup 35.000 unit pikap 4x4 dan 35.000 unit truk roda enam. Total nilai impornya mencapai Rp 24,66 triliun.
Dari informasi yang beredar, salah satu alasan Agrinas mengimpor mobil buatan India adalah karena industri di Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan untuk mobil pikap dengan penggerak 4x4.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menegaskan, sejak lima dekade yang lalu, industri otomotif nasional mampu memproduksi kendaraan niaga atau mobil pikap di dalam negeri.
Baca Juga: Pasokan Batubara Dalam Negeri Terancam, Pupuk Indonesia Lakukan Penyesuaian
Hanya saja, produksi mobil dengan karakteristik tertentu seperti 4x4 perlu mempertimbangkan permintaan di pasar. Selama ini, permintaan terhadap pikap 4x4 terbilang mini.
"Beberapa anggota kami punya kemampuan membuat kendaraan 4x4 baik itu SUV maupun komersial. Masalahnya, demand nggak banyak, volume kecil, maka platform-nya dibagi di kawasan ASEAN. Tapi kita mampu (produksi), kalau memang diperlukan dan jumlahnya banyak, meski tentu perlu waktu untuk persiapan," ungkap Kukuh saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (23/2/2025).
Kukuh menggambarkan, untuk memproduksi satu unit mobil dibutuhkan sekitar 20.000 - 30.000 komponen. Penyediaan komponen tersebut bakal menggerakkan industri-industri terkait, yang diharapkan bisa menghidupkan sektor manufaktur di dalam negeri.
"Komponennya banyak sekali, itu perlu dikelola, disiapkan raw material, baja, kaca, dan segala macamnya," imbuh Kukuh.
Sebelumnya, Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa kapasitas produksi anggota Gaikindo untuk jenis kendaraan pikap mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. Setidaknya ada tujuh pabrikan yang memproduksi mobil komersial jenis pikap, yakni: Suzuki Indomobil Motor, Isuzu Astra Motor Indonesia, Krama Yudha Tiga Berlian Motor, SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), Sokonindo Automobile (DFSK), Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan Astra Daihatsu Motor.
Kendaraan pikap yang diproduksi umumnya menggunakan penggerak 4x2. Putu menjelaskan bahwa jenis kendaraan ini sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok Indonesia, yang didukung oleh jaringan servis bengkel atau pelayanan purna jual yang tersebar luas.
Baca Juga: Pasokan Batubara Dalam Negeri Terancam, Pupuk Indonesia Lakukan Penyesuaian
Putu menegaskan, industri di dalam negeri juga mampu memproduksi kendaraan jenis penggerak 4x4. "Anggota Gaikindo dan industri-industri pendukung, diantaranya industri komponen otomotif mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” ujar Putu
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki mengamini, industri komponen otomotif dalam negeri mampu memproduksi kendaraan komersial truk dan pikap dengan mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 50%. "Kalau itu diproduksi di dalam negeri, efek supply chain-nya akan tinggi," ungkap Rachmad.
Apabila penyediaan kendaraan pikap untuk Koperasi Merah Putih melibatkan produsen otomotif nasional, maka akan menghidupkan ekosistem industri otomotif di dalam negeri. Mulai dari industri komponen tier 1 - tier 3, industri perakitan, serta industri karoseri.
Rachmad pun mengingatkan bahwa pada tahun lalu, industri komponen otomotif terhantam ramainya impor mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) dan truk dari China. Dia berharap, tahun ini industri komponen lokal tidak kembali tertekan oleh impor mobil utuh, yang kali ini berasal dari India.
"Semestinya pemerintah lebih mengutamakan industri dalam negeri, karena industri manufaktur sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi dam penyerapan tenaga kerja. Apalagi di tengah masih adanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan penurunan pasar (otomotif) tiga tahun beruntun," tegas Rachmad.
Ketua Umum Perkumpulan Industri Kecil - Menengah Komponen Otomotif Indonesia (Pikko) Rosalina Faried sepakat, pengalaman dan kemampuan industri otomotif dan komponen di dalam negeri sudah mumpuni untuk memenuhi kebutuhan kendaraan niaga.
Rosalina bilang, rata-rata Industri Kecil Menengah (IKM) yang tergabung di dalam Pikko pun sudah beroperasi selama lebih dari 30 tahun.
Rosalina berharap produsen lokal bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemasok kebutuhan kendaraan operasional bagi Koperasi Merah Putih. Dia mengingatkan, impor kendaraan utuh dalam jumlah besar bisa berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem industri otomotif nasional.
Baca Juga: Intiland Luncurkan Sakha Semanan di Jakbar, Rumah Tapak Harga Rp 1,9 Miliaran
"Dengan isu impor mobil pikap dari India, tentunya kami kecewa, seakan-akan tidak mengetahui prestasi anak bangsa di sektor manufaktur komponen otomotif. Pikko masih berharap pemerintah dapat konsisten dengan TKDN," kata Rosalina.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Dadang Asikin menyoroti langkah Agrinas mengimpor mobil pikap dari India ini mencerminkan inkonsistensi kebijakan dan melemahkan semangat kemandirian industri nasional. Aksi ini mengirimkan sinyal negatif kepada pelaku industri nasional yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.
"GAMMA mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengadaan kendaraan di lingkungan BUMN agar selaras dengan visi kemandirian industri dan arahan Presiden. Keberpihakan terhadap produk dalam negeri bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan konsisten," terang Dadang
Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus H. Gunawan mengungkapkan bahwa impor mobil pikap utuh dari India berdampak terhadap industri kaca pengaman untuk kendaraan bermotor serta industri kaca lembaran sebagai pemasok bahan baku utama.
Yustinus meminta, agar impor ini dianalis kembali secara komprehensif, mempertimbangkan struktur dan kapasitas industri komponen domestik.
Apabila kebijakan impor tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasar atau pertimbangan tertentu, Yustinus menilai pendekatan yang lebih selaras dengan penguatan industri dalam negeri adalah melalui skema Incomplete Knock Down (IKD). Skema ini memungkinkan impor komponen yang belum diproduksi atau belum memiliki daya saing memadai di dalam negeri, sembari mempertahankan aktivitas perakitan dan penggunaan komponen lokal yang telah tersedia kapasitasnya.
"Kebijakan impor yang dirancang secara selektif dan berbasis struktur kapasitas industri akan lebih efektif dalam menjaga kesinambungan industri, termasuk sektor kaca lembaran dan kaca pengaman untuk kendaraan bermotor. Sekaligus mendukung agenda peningkatan nilai tambah dan industrialisasi nasional," tegas Yustinus.
Estimasi Kerugian Ekonomi Capai Rp 39 Triliun
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengingatkan potensi kerugian ekonomi dan gelombang PHK sebagai dampak dari impor mobil untuk Koperasi Merah Putih. Studi Celios mengestimasikan adanya potensi kerugian ekonomi sekitar Rp 39 triliun karena importasi 105.000 pikap yang dilakukan Agrinas.
Potensi kerugian ekonomi ini terutama terjadi akibat pengurangan Produk Domestik Bruto (PDB), terutama di komponen industri manufaktur, transportasi dan pergudangan, hingga jasa perusahaan. Di sisi lain, ada potensi PHK yang mengancam hingga 330.000 orang tenaga kerja.
"Di saat yang bersamaan industri otomotif sedang mengalami tekanan dan membukukan penurunan penjualan. Agrinas terutama Danantara sebagai induk BUMN seharusnya memprioritaskan kendaraan niaga domestik," kata Bhima.
Bhima juga mempertanyakan urgensi penggunaan kendaraan niaga 4x4 untuk operasional Koperasi Merah Putih. "Apakah semua wilayah harus disamakan desa terpencil? Kapasitas produksi kendaraan niaga domestik juga sangat mencukupi dibanding impor CBU dari India," tandas Bhima.
Selanjutnya: Puncak Klasemen Putri Proliga: Gresik Pupuk Indonesia Siap Digeser Jakarta Pertamina?
Menarik Dibaca: 6 Promo Ramadhan Es Teler 77: Jangan Lewatkan Beli 1 Gratis 1 hingga Diskon 50%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)