kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   31.000   1,17%
  • USD/IDR 17.657   -19,00   -0,11%
  • IDX 6.648   -20,11   -0,30%
  • KOMPAS100 869   -3,74   -0,43%
  • LQ45 659   -4,01   -0,61%
  • ISSI 231   -0,63   -0,27%
  • IDX30 368   -2,49   -0,67%
  • IDXHIDIV20 455   -3,95   -0,86%
  • IDX80 99   -0,62   -0,63%
  • IDXV30 126   -1,06   -0,83%
  • IDXQ30 118   -0,92   -0,77%

Pabrik BYD Subang Resmi Beroperasi, Pemerintah Dorong TKDN Kendaraan Listrik


Jumat, 04 September 2026 / 13:59 WIB
Pabrik BYD Subang Resmi Beroperasi, Pemerintah Dorong TKDN Kendaraan Listrik
ILUSTRASI. Kemenperin menilai kehadiran fasilitas produksi BYD menjadi momentum penting untuk membawa industri kendaraan listrik nasional (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beroperasinya pabrik kendaraan listrik PT BYD Motor Indonesia di Subang, Jawa Barat, menandai semakin seriusnya pengembangan basis manufaktur kendaraan listrik di Indonesia.

Pemerintah kini mendorong agar investasi tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat industri komponen dan rantai pasok dalam negeri.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai kehadiran fasilitas produksi BYD menjadi momentum penting untuk membawa industri kendaraan listrik nasional dari sekadar pertumbuhan pasar menuju penguatan basis manufaktur.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, beroperasinya fasilitas produksi BYD menjadi momentum untuk membawa perkembangan kendaraan listrik nasional dari fase pertumbuhan pasar menuju penguatan basis manufaktur.

“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada BYD atas kepercayaan dan komitmennya untuk berinvestasi serta mengembangkan kegiatan manufaktur kendaraan listrik di Indonesia. Kami sangat yakin BYD akan terus berkembang dan sukses di Indonesia,” kata Agus dalam peresmian fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga: Menkeu Purbaya Buka Peluang Insentif bagi Film Lokal yang Tayang di Bioskop

Menurut Agus, pemerintah juga ingin memastikan investasi kendaraan listrik memberikan dampak lebih luas terhadap industri nasional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Peta jalan pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) menetapkan peningkatan TKDN secara bertahap. Porsi minimum TKDN ditetapkan 40% hingga 2026, kemudian naik menjadi 60% pada 2027-2029 dan 80% mulai 2030.

Agus mengatakan pemerintah juga tengah mengkaji kemungkinan pemberian insentif yang dikaitkan dengan tingkat TKDN. Skema tersebut diharapkan dapat mendorong produsen meningkatkan penggunaan komponen lokal.

“Ada arahan dari Pak Luhut, agar kita coba pelajari untuk memberikan program insentif yang berbasis penguatan nilai TKDN. Jadi semakin tinggi nilai TKDN, itu semakin perlu mendapat perhatian dari pemerintah termasuk persiapan-persiapan dalam pemberian insentif,” ujarnya.

Kemenperin akan mendesain dan mengoordinasikan gagasan tersebut dengan kementerian dan lembaga terkait. Pemerintah berharap skema itu dapat mendorong produsen kendaraan listrik meningkatkan penggunaan komponen domestik sekaligus menarik pemasok global membangun fasilitas produksi di Indonesia.

Pasar EV Membesar

Dorongan penguatan manufaktur kendaraan listrik muncul seiring dengan semakin besarnya pasar EV di Indonesia. Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik di Indonesia telah mencapai sekitar 486.000 unit.

Dari jumlah tersebut, kendaraan roda dua mencapai sekitar 242.000 unit dan kendaraan roda empat sekitar 223.000 unit. Sisanya berasal dari berbagai jenis kendaraan listrik lainnya.

Pertumbuhan juga terlihat pada penjualan kendaraan roda empat berbasis elektrifikasi. Pada semester I-2026, penjualan battery electric vehicle (BEV) mencapai sekitar 70.000 unit dengan pangsa pasar sekitar 16%.

Sementara itu, penjualan hybrid electric vehicle (HEV) mencapai sekitar 40.400 unit dengan pangsa pasar mendekati 10%.

“Besarnya pangsa kendaraan elektrifikasi menunjukkan penerimaan konsumen Indonesia terhadap teknologi kendaraan rendah emisi semakin kuat. Karena itu, pemerintah terus menghadirkan kebijakan afirmatif yang tidak hanya bertujuan membangun pasar, tetapi juga memperkuat struktur industri dan kapasitas produksi di dalam negeri,” jelas Agus.

Dengan pertumbuhan pasar tersebut, pemerintah melihat peluang untuk memperbesar nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri. Karena itu, investasi kendaraan listrik diarahkan agar semakin terhubung dengan industri komponen dan rantai pasok domestik.

Kejar Pendalaman Industri

Agus mengatakan, beroperasinya pabrik BYD juga berlangsung ketika industri manufaktur nasional masih mencatat pertumbuhan positif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II-2026 industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.

“Pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,32 persen sudah berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Terakhir kali pertumbuhan manufaktur berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional terjadi sekitar 14 tahun lalu. Ini menjadi sinyal yang sangat positif bagi industri kita,” ungkap Agus.

Selain pertumbuhan, kemampuan industri dalam menciptakan nilai tambah juga meningkat. Berdasarkan data Bank Dunia, manufacturing value added (MVA) Indonesia pada 2025 mencapai US$275,61 miliar, naik dari US$265,07 miliar pada 2024.

Baca Juga: Adhi Karya (ADHI) Kantongi Kontrak Baru Rp 8,3 Triliun hingga Juli 2026

Capaian tersebut membawa Indonesia naik dari peringkat ke-13 dunia pada 2024 menjadi peringkat ke-12 pada 2025 dalam penciptaan nilai tambah manufaktur.

“Ini bukan data Kementerian Perindustrian dan bukan pula data BPS, tetapi data Bank Dunia. Artinya, kemampuan industri manufaktur Indonesia dalam menciptakan nilai tambah terus mengalami peningkatan,” tutur Menperin.

Di kawasan ASEAN, nilai MVA Indonesia menjadi yang tertinggi. Menurut Agus, nilai tambah manufaktur Indonesia sekitar dua kali lipat dibandingkan Thailand. Sementara di Asia, Indonesia berada di posisi kelima setelah China, Jepang, India, dan Korea Selatan.

“Kalau kita disiplin menjalankan program dan kebijakan industrialisasi yang telah ditetapkan, saya yakin dalam waktu ke depan kita dapat semakin mendekati capaian MVA negara-negara industri utama di Asia tersebut,” ujarnya.

Ke depan, Kemenperin berharap keberadaan BYD dapat mendorong terbentuknya ekosistem EV yang lebih lengkap. Ekosistem tersebut mencakup pengolahan bahan baku, manufaktur sel baterai dan battery pack, industri komponen, produksi kendaraan listrik hingga daur ulang baterai.

“Kami berharap kehadiran BYD dapat semakin memperkuat keterkaitan antarmata rantai industri tersebut, termasuk dengan semakin banyak melibatkan industri komponen dan pemasok dalam negeri,” tuturnya.

Menurut Agus, penguatan rantai pasok domestik penting untuk memperbesar efek berganda investasi kendaraan listrik, mulai dari peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia hingga peningkatan ekspor.

“Peresmian fasilitas produksi BYD Indonesia bukan sekadar beroperasinya sebuah pabrik baru. Ini merupakan momentum untuk memperkuat basis manufaktur, memperdalam struktur industri, serta membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang semakin terintegrasi,” tegas Agus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×