kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

Paiton Energy Andalkan Retrofit, Hitung Dampak Tambahan Pembangkit Gas 10 GW di RUPTL


Rabu, 23 September 2026 / 16:29 WIB
Paiton Energy Andalkan Retrofit, Hitung Dampak Tambahan Pembangkit Gas 10 GW di RUPTL
ILUSTRASI. Paiton Energy Andalkan Retrofit, Hitung Dampak Target Tambahan Pembangkit Gas 10 GW di RUPTL (KONTAN/Chelsea Anastasia)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen tenaga listrik swasta, PT Paiton Energy, mengandalkan strategi retrofit untuk memperpanjang masa operasi pembangkit yang dimiliki, seiring target penambahan 10,3 Gigawatt (GW) pembangkit berbasis gas dalam RUPTL yang dapat mempengaruhi tingkat utilisasi pembangkit eksisting.

Senior Manager Operations & Maintenance PT Paiton Energy, Yoza Jamal, mengatakan perusahaan saat ini menghadapi kebutuhan perpanjangan masa power purchase agreemenet (PPA) untuk pembangkit yang terhubung ke sistem Jawa-Bali. PPA yang sebelumnya dirancang hingga 2030 diperpanjang sampai 2042, atau bertambah 12 tahun.

“Awalnya proyek ini dirancang hanya untuk 30 tahun, tetapi sekarang periode PPA diperpanjang hingga tahun 2042, yang berarti ada perpanjangan 12 tahun lagi,” kata Yoza dalam diskusi di Electricity Connect 2026, ICE BSD City, Rabu (23/9/2026).

Perpanjangan masa PPA tersebut membuat Paiton Energy perlu memastikan kesiapan pembangkit untuk beroperasi lebih lama. Salah satu langkah yang dilakukan adalah retrofit terhadap sejumlah peralatan utama.

Peralatan yang menjadi perhatian antara lain turbin utama, generator, GIS, transformator step-up, boiler, kondensor, hingga reheater boiler. Penentuan peralatan yang perlu diretrofit melihat kondisi teknis dan sisa masa pakai masing-masing aset.

Baca Juga: Menyusuri Jalan Berliku Mencapai Target Pembangkit Gas 10,3 GW dalam RUPTL 2025-2034

Menurut Yoza, retrofit tidak hanya ditujukan untuk memperpanjang usia peralatan. Namun, investasi yang dikeluarkan juga diharapkan memberikan peningkatan efisiensi.

“Tujuan kedua adalah memastikan bahwa dengan menginvestasikan sejumlah uang, kami juga mendapatkan peningkatan efisiensi selain sekadar memperbarui peralatan,” kata dia.

Dari sisi investasi, Paiton Energy memperkirakan biaya retrofit sekitar 10% hingga maksimal 20% dari nilai investasi awal. Besaran tersebut nantinya dibandingkan dengan biaya pembangunan pembangkit baru dan tambahan masa operasi yang diperoleh.

“Ini adalah angka yang masuk akal jika dibandingkan dengan membangun pembangkit baru, sementara ini hanya untuk memperpanjang 10 hingga 20 tahun operasi komersial pembangkit,” ujar Yoza.

Namun, keputusan retrofit juga perlu memperhitungkan perkembangan sistem ketenagalistrikan. Salah satunya adalah rencana penambahan kapasitas pembangkit dalam RUPTL.

Yoza mengatakan tambahan pembangkit baru dapat mempengaruhi tingkat utilisasi pembangkit lama. Jika kapasitas pembangkit baru bertambah, pemanfaatan pembangkit eksisting bisa berkurang.

“Namun, jika ada penambahan pembangkit baru sesuai RUPTL, misalnya penambahan 10 GW, maka pemanfaatan pembangkit lama bisa berkurang,” kata dia.

Sebaliknya, jika penambahan pembangkit baru belum mencukupi kebutuhan sistem, pembangkit yang sudah ada bisa tetap memiliki tingkat utilisasi yang tinggi.

“Jika tidak ada penambahan pembangkit baru yang memadai yang terhubung ke jaringan, maka pemanfaatan pembangkit yang ada akan terus meningkat,” ujarnya.

Untuk melihat kelayakan retrofit, Paiton Energy menggunakan sejumlah skenario. Perusahaan menetapkan base case, kemudian membandingkan kondisi dengan tingkat utilisasi pembangkit yang berbeda.

Baca Juga: Target PLTS 100 GWp, Pengamat Minta RUPTL PLN 2025-2034 Perlu Direvisi

Dalam perhitungan tersebut, Paiton Energy membandingkan beberapa pilihan, termasuk retrofit, perpanjangan masa pakai, hingga penghentian operasi. Tingkat utilisasi menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihan tersebut.

Selain utilisasi, perusahaan juga memperhitungkan biaya bahan bakar, biaya pemeliharaan, kebutuhan suku cadang, dukungan original equipment manufacturer (OEM), serta perkembangan regulasi dan standar emisi.

Yoza mengatakan perhitungan tersebut juga perlu melihat total biaya kepemilikan dalam jangka panjang. Artinya, bukan hanya biaya investasi retrofit yang dihitung, tetapi juga kebutuhan perawatan dan dukungan peralatan selama pembangkit beroperasi.

“Kami harus menghitung total biaya kepemilikan, termasuk pasokan suku cadang dan dukungan dari OEM atau non-OEM,” pungkasnya.

Untuk melihat kondisi peralatan, Paiton Energy juga menggunakan sistem digital dalam proses Remaining Life Assessment (RLA). Data historis operasi digunakan untuk membantu memperkirakan sisa umur peralatan dan menentukan kebutuhan perbaikan atau penggantian.

“Dari sana, kami dapat menentukan apakah perlu melakukan retrofit, life extension, mengubah pola operasi, atau meningkatkan material,” katanya.

Selain itu, Paiton Energy menggunakan Advanced Pattern Recognition (APR) untuk melihat penyimpangan dari tren operasi. Sistem tersebut digunakan untuk memberikan peringatan lebih awal ketika terdapat indikasi kondisi yang tidak normal.

“Dengan demikian, teknologi digital semakin penting untuk peningkatan kinerja, perpanjangan masa pakai, dan availability pembangkit,” tandasnya.

Baca Juga: Ada Program PLTS 100 GWp, Usulan Poin Ini Masuk dalam Review RUPTL

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×