kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.909   -9,00   -0,05%
  • IDX 6.042   -52,06   -0,85%
  • KOMPAS100 780   -5,82   -0,74%
  • LQ45 598   -3,19   -0,53%
  • ISSI 211   -2,12   -1,00%
  • IDX30 333   -1,55   -0,46%
  • IDXHIDIV20 426   -0,79   -0,18%
  • IDX80 89   -0,68   -0,76%
  • IDXV30 116   -0,52   -0,45%
  • IDXQ30 109   -0,21   -0,19%

Pakar M&A Ingatkan Investor Tak Hanya Andalkan Valuasi Saat Akuisisi


Senin, 12 Oktober 2026 / 09:20 WIB
Pakar M&A Ingatkan Investor Tak Hanya Andalkan Valuasi Saat Akuisisi
ILUSTRASI. Merger dan akuisisi (Sascha Steinach/IMAGO via REUTERS)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor perlu mencermati prospek bisnis jangka panjang sebelum mengakuisisi perusahaan. Selain valuasi, pendapatan, aset, dan proyeksi pertumbuhan, perubahan teknologi, regulasi, serta perilaku konsumen turut menentukan keberlanjutan bisnis perusahaan target.

Strategic Advisor, Managing Partner, dan M&A & Investment Strategist FIP Advisory Firm, Feby M. Faisal mengatakan, keberhasilan merger dan akuisisi (mergers and acquisitions/M&A) tidak cukup diukur dari rampungnya transaksi.

Baca Juga: Agrinas Palma Siapkan 1 Juta Hektare Lahan, Kembangkan Bahan Baku untuk Bioetanol

Investor juga perlu memastikan perusahaan target memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan industri.

“Akuisisi yang baik bukan hanya transaksi kepemilikan. Ia adalah keputusan strategis tentang masa depan,” ujar Feby dalam keterangannya Minggu (12/10/2026).

Menurut dia, investor perlu mengidentifikasi peluang penciptaan nilai sekaligus risiko bisnis dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Dengan demikian, keputusan akuisisi tidak hanya mengandalkan kinerja historis, tetapi juga mempertimbangkan relevansi model bisnis perusahaan di masa depan.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah strategic foresight, yakni proses mengidentifikasi sinyal perubahan, menyusun berbagai skenario masa depan, dan menguji ketahanan strategi bisnis dalam menghadapi perubahan lingkungan usaha.

Baca Juga: Martina Berto (MBTO) Bidik Peluang di Industri Makloon Kosmetik, Kontribusi Capai 40%

Pendekatan ini bukan untuk meramalkan masa depan secara pasti, melainkan membantu investor menyiapkan strategi menghadapi berbagai kemungkinan.

Feby menilai, perusahaan dengan pendapatan dan profitabilitas tinggi belum tentu menjadi target akuisisi yang tepat jika model bisnisnya rentan terhadap perubahan pasar.

Sebaliknya, perusahaan dengan profitabilitas yang belum optimal bisa memiliki nilai strategis melalui penguasaan teknologi, akses pasar, kekayaan intelektual, atau kapabilitas yang dapat dikembangkan setelah akuisisi.

Karena itu, investor perlu mengevaluasi strategic fit atau kesesuaian strategis antara perusahaan target dan perusahaan pembeli.

Faktor ini menentukan apakah transaksi berpotensi menciptakan nilai tambah atau justru meningkatkan beban dan kompleksitas bisnis.

“Nilai perusahaan tidak selalu terlihat dari angka hari ini. Investor perlu melihat bagaimana aset, teknologi, akses pasar, dan kapabilitas perusahaan dapat menciptakan nilai strategis setelah akuisisi,” kata Feby.

Baca Juga: BSDE dan MTLA Cermati Rencana Perluasan Rumah Subsidi

Ia menambahkan, proses uji tuntas (due diligence) perlu mencakup kesiapan perusahaan menghadapi perubahan atau future readiness, selain pemeriksaan aspek hukum, keuangan, dan operasional.

Investor perlu memperhitungkan perubahan permintaan pasar, kemunculan pesaing baru, pergeseran regulasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Teknologi AI, misalnya, berpotensi mengubah struktur biaya dan peta persaingan di berbagai industri.

Selain itu, investor perlu memastikan akuisisi benar-benar memperkuat daya saing perusahaan pembeli. Transaksi yang tampak menarik secara finansial dapat kehilangan manfaat apabila tidak didukung kesesuaian strategi dan rencana integrasi yang realistis.

“Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah perusahaan ini layak dibeli hari ini, tetapi juga bagaimana posisinya jika pasar bergeser, pesaing baru muncul, AI mengubah struktur biaya, atau aturan industri berubah,” ujar Feby.

Pertimbangan jangka panjang tersebut juga memengaruhi penilaian harga akuisisi. Feby mengatakan, valuasi rendah tidak otomatis menjadikan perusahaan target sebagai investasi yang menguntungkan. Sebaliknya, valuasi tinggi juga tidak selalu berarti harga transaksi terlalu mahal.

Baca Juga: Target Penjualan Mobil 1 Juta Unit Sulit Dicapai pada 2026

Penilaian perlu mempertimbangkan harga transaksi, risiko bisnis, kemampuan integrasi, serta potensi nilai strategis yang realistis untuk diwujudkan.

Potensi sinergi, mulai dari penghematan biaya, perluasan pasar, hingga penguatan teknologi, juga perlu diterjemahkan menjadi target terukur dan rencana implementasi yang jelas.

Menurut Feby, keberhasilan M&A tidak berhenti pada penandatanganan dokumen atau peralihan kepemilikan. Perusahaan perlu memastikan manfaat yang direncanakan benar-benar terealisasi setelah transaksi.

“Keberhasilan M&A tidak ditentukan saat dokumen transaksi ditandatangani, melainkan ketika sinergi benar-benar terealisasi,” tegasnya.

Dengan demikian, penilaian prospek industri, risiko perubahan, dan kemampuan adaptasi perusahaan menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan akuisisi. Ketiga aspek tersebut membantu investor menilai potensi penciptaan nilai sekaligus menjaga relevansi bisnis dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×