kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Pandemi corona (Covid-19) mempengaruhi kelangsungan bisnis di sektor pertanian


Rabu, 10 Juni 2020 / 16:09 WIB
Pandemi corona (Covid-19) mempengaruhi kelangsungan bisnis di sektor pertanian
ILUSTRASI. Pekerja memanen kelapa sawit. KONTAN/Baihaki


Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Corona harus diakui cukup mempengaruhi kelangsungan bisnis di sektor pertanian dan perkebunan. Penerapan investasi hijau di sektor-sektor tersebut tentu penting untuk dilakukan.

Rukaiyah Rafiq, Kepala Sekolah Petani Sawit Berkelanjutan Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi) mengungkapkan, salah satu bentuk implementasi investasi hijau di industri kelapa sawit adalah penyediaan sertifikasi berkelanjutan bagi para petani swadaya.

Baca Juga: Swiss hadang produk CPO & turunannya dari Indonesia, ini neraca dagang kedua negara

Dengan begitu, produk-produk yang dihasilkan petani tersebut juga akan bersertifikat dan bisa dibeli oleh banyak pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri. Dana pembelian tersebut nantinya dapat diinvestasikan dengan tujuan untuk memperkuat kelembagaan petani, memperluas jangkauan sertifikasi, pemulihan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan petani yang sudah bersertifikat.

Rukaiyah pun menyebut, saat ini tercatat ada sekitar 7.000 petani sawit swadaya di Indonesia yang mana 6.000 petani di antaranya sudah bersertifikat berkelanjutan. Hanya memang, pandemi Corona suka tidak suka cukup mempengaruhi sektor perkebunan kelapa sawit. Dalam hal ini, harga pestisida dan pupuk mengalami kenaikan sehingga memberatkan petani.

Produk tandan buah segar (TBS) dari petani juga sulit terserap oleh pasar ditambah lagi ekspor produk tersebut juga melambat, sehingga berpengaruh pada penurunan harga jual.

Belum lagi, para petani yang tidak memiliki organisasi atau lembaga rentan terjebak oleh tengkulak. “Isu Corona bisa saja dipermainkan oleh pihak ketiga atau tengkulak untuk menekan harga TBS kepada petani,” ungkap Rukaiyah dalam diskusi daring, Rabu (10/6).

Baca Juga: Indonesia gandeng negara ini untuk bikin vaksin corona




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×