kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.915   45,00   0,25%
  • IDX 5.662   -158,81   -2,73%
  • KOMPAS100 729   -22,79   -3,03%
  • LQ45 556   -16,70   -2,91%
  • ISSI 197   -4,68   -2,32%
  • IDX30 316   -8,75   -2,69%
  • IDXHIDIV20 390   -11,13   -2,78%
  • IDX80 83   -2,56   -2,99%
  • IDXV30 106   -2,28   -2,10%
  • IDXQ30 102   -2,82   -2,69%

Pasar lesu, Holcim ingin moratorium pabrik semen


Sabtu, 04 Februari 2017 / 15:50 WIB


Reporter: Petrus Sian Edvansa | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. PT Holcim Indonesia Tbk memprediksi penjualan semen di pasar domestik tetap menjadi motor utama bisnis mereka tahun ini. Namun, ada tantangan bisnis semen di dalam negeri karena pertumbuhan ekonomi masih melambat dan persaingan industri semen kian ketat.

Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk Gary Schutz kepada KONTAN, Kamis (2/2) menyampaikan harapan pemerintah Indonesia mewujudkan wacana moratorium investasi pabrik semen baru. Selain itu, industri ini juga masih membutuhkan banyak dorongan seperti perlunya memperbanyak proyek infrastruktur agar permintaan semen stabil sehingga pabrik semen lebih efisien.

Asal tahu, pasar semen di Pulau Jawa merupakan penyumbang terbesar bagi penjualan di dalam negeri. Namun, perusahaan berkode saham SMCB di Bursa Efek Indonesia itu tengah berupaya meningkatkan penjualan di Sumatra.

Mengintip laporan keuangan per 30 September 2016, penjualan SMCB pasar domestik tercatat mencapai Rp 6,88 triliun. Nilai penjualan itu setara dengan kontribusi 99,59% terhadap total penjualan sebesar Rp 6,91 triliun. Sisa kontribusi 0,41% berasal dari penjualan ekspor.

Meskipun kontribusi penjualan ekspor mini, manajemen Holcim Indonesia tak ingin melewatkan peluang bisnisnya. Garry bilang, saat ini SMCB tengah menyiapkan rencana untuk ekspor ke negara-negara seperti Bangladesh, Srilanka dan Australia.

Informasi saja, Holcim Indonesia mengoperasikan pabrik dengan total kapasitas produksi 15 juta ton per tahun. Tanpa menyebutkan nilai, tahun lalu mereka mencetak penurunan penjualan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×