kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45949,73   8,09   0.86%
  • EMAS1.029.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Pasca akuisisi 3.000 menara IBST, begini dampaknya terhadap kinerja Tower Bersama


Jumat, 03 September 2021 / 17:18 WIB
Pasca akuisisi 3.000 menara IBST, begini dampaknya terhadap kinerja Tower Bersama
ILUSTRASI. Pekerja melakukan pengecekan jaringan kabel optik di menara milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) . ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) mengumumkan laporan kinerja tengah tahun 2021. Dalam periode enam bulan pertama tersebut, TBIG mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,97 triliun dan EBITDA senilai Rp 2,59 triliun.

CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong mengungkapkan, pada bulan April lalu TBIG telah merampungkan pembelian 3.000 menara dari PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST). Maka per 30 Juni 2021, TBIG memiliki 37.232 penyewaan dan 19.709 sites telekomunikasi. 

Sites telekomunikasi milik TBIG terdiri dari 19.598 menara telekomunikasi dan 111 jaringan DAS. Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 37.121, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) TBIG menjadi 1,89x.

“Dengan senang hati kami mengumumkan bahwa pembelian 3.000 menara dari IBST telah diselesaikan di awal April. Pertambahan pendapatan dan EBITDA dari akuisisi ini telah digabungkan di dalam laporan keuangan kuartal kedua. Di enam bulan pertama 2021, kami telah menambahkan 3.465 sites telekomunikasi dan 2.180 kolokasi ke dalam portofolio kami,” ujar Hardi dalam keterangan yang disampaikan kepada Kontan.co.id, Jum'at (3/9).

Penambahan menara IBST telah menyebabkan penurunan rasio kolokasi TBIG dari 1,98x di kuartal pertama menjadi 1,89x di akhir kuartal kedua. Seiring dengan pelanggan telekomunikasi TBIG yang terus memperkuat dan memperluas jaringan mereka, kata Hardi, TBIG memperkirakan adanya peningkatan permintaan untuk kolokasi. 

Baca Juga: Bisnis telekomunikasi akan semakin menjanjikan di era 5G

"Dengan adanya pandemi Covid-19 yang berlanjut, tim manajemen kami mengambil langkah-langkah tambahan untuk memastikan kami menjaga kesehatan karyawan kami dan menjaga kemampuan kami untuk beroperasi selama masa yang tidak pasti ini," sambung Hardi.

Mengutip laporan keuangan yang diterbitkan di Bursa Efek Indonesia, pada semester pertama 2021 TBIG mampu menumbuhkan pendapatan sebesar 15,56% menjadi Rp 2,97 triliun, dibandingkan raihan Rp 2,57 triliun pada Semester I-2020.

TBIG juga membukukan kenaikan pada laba bersih periode berjalan menjadi Rp 689,83 miliar atau tumbuh 28,24% dibandingkan periode Juni 2020. Dari sisi bottom line, TBIG mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 663,26 miliar atau naik 29,92% dari periode yang sama tahun lalu.

Direktur TBIG Helmy Yusman Santoso menegaskan, pihaknya optimistis untuk bisa bersaing di industri menara telekomunikasi yang semakin kompetitif. TBIG juga yakin bisa tetap mengembangkan bisnis dan menumbuhkan pendapatan. "Iya, kami tetap optimis," ujarnya saat dihubungi Kontan.co.id, Jum'at (3/9).

 

 

Adapun total pinjaman kotor (gross debt) TBIG per 30 Juni 2021, jika bagian pinjaman dalam mata uang dollar Amerika Serikat yang telah dilindung nilai diukur menggunakan kurs lindung nilai, tercatat sebesar Rp 26,81 triliun dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp 11,44 triliun.

Dengan saldo kas TBIG sebesar Rp 894 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp 25,91 triliun dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) Perseroan menjadi Rp 10,55 triliun. 

Jika menggunakan EBITDA kuartal kedua 2021 yang disetahunkan, rasio pinjaman senior bersih terhadap EBITDA adalah 1,9x dan pinjaman bersih terhadap EBITDA adalah 4,8x. Menurut Helmy, rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA kuartal terakhir yang disetahunkan meningkat dari 4,4x menjadi 4,8x pada kuartal kedua tahun 2021. 

"Peningkatan ini terutama disebabkan oleh penyelesaian akuisisi 3.000 menara IBST. Berbagai debt refinancing yang kami lakukan selama semester pertama tahun 2021 telah memperpanjang profil jatuh tempo utang kami dan mengurangi biaya pembiayaan all-in kami. Kami terus melakukan lindung nilai atas utang kami dengan lindung nilai yang sesuai dengan jatuh tempo utang,” pungkas Helmy.

Selanjutnya: Pengamat menilai bisnis menara telekomunikasi masih menjanjikan, ini alasannya

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×