Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memastikan ketersediaan gula rafinasi sebagai bahan baku industri makanan dan minuman hingga akhir tahun. Pemerintah juga mendorong percepatan penetapan kebutuhan dan impor gula rafinasi agar pasokan pada awal 2027 tetap aman.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, pemerintah mengantisipasi kenaikan kebutuhan bahan baku industri seiring momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru), yang kemudian berlanjut dengan Ramadan dan Idul Fitri.
"Jadi kita antisipasi. Kita berikan dukungan ketercukupan bahan baku terutama untuk makanan dan minuman dari sisi penyediaan gula rafinasi," kata Sarmuji, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga: Pertamina Ungkap Tantangan Hulu Migas, Optimalisasi Aset Butuh Pendekatan Menyeluruh
Menurut dia, kebutuhan gula rafinasi perlu dijaga lantaran utilisasi industri agro, khususnya subsektor makanan dan minuman, saat ini masih berada di kisaran 60%. Pemerintah berharap ketersediaan bahan baku dapat mendorong utilisasi industri lebih tinggi.
Sarmuji menambahkan, pemerintah telah menangani keluhan salah satu pabrik yang mengalami kekurangan gula rafinasi hingga 15.000 ton. Kekurangan tersebut berpotensi mengganggu operasional pabrik apabila tidak segera ditangani.
"Setelah koordinasi, alhamdulillah bisa kita atasi. Sekarang yang mengeluh tadi itu sudah tersedia, 90% dari kebutuhannya sudah tersedia dan insya Allah tidak akan ada pabrik yang berhenti produksi karena kekurangan gula rafinasi," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Sarmuji menyebut pasokan gula rafinasi dipastikan aman hingga Desember 2026. Namun, pemerintah masih mengupayakan agar pasokan untuk awal 2027 dapat datang lebih cepat.
"Awal tahun apakah datang lebih cepat? Itu yang lagi kita usahakan supaya neraca komoditasnya bisa segera kita selesaikan sehingga pemesanan gula rafinasi sebagai bahan baku industri aman di awal tahun depan," jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Berburu Pasokan BBM dari China-India, Ekonom: Singapura Masih Mendominasi
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Supriadi mengatakan, kebutuhan gula rafinasi tahun ini berada di kisaran 3 juta ton. Pasokan tersebut diperkirakan mencukupi hingga akhir Desember, namun ketersediaan pada Januari 2027 masih terbatas.
Karena itu, AGRI mendorong percepatan penerbitan rencana kebutuhan industri dan persetujuan impor agar pasokan gula rafinasi kembali tersedia pada awal tahun depan.
"Pada tahun ini ada sekitar 3 juta ton. Namun memang mencukupi sampai akhir Desember, hanya ada ketersediaan sedikit di Januari," kata Supriadi.
Supriadi belum menyebutkan kebutuhan impor gula rafinasi untuk 2027. Menurut dia, kebutuhan tersebut masih menunggu masukan dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) terkait kebutuhan industri makanan, minuman dan farmasi.
Di sisi lain, pemerintah menyoroti potensi kebocoran gula rafinasi ke pasar konsumen. Sarmuji meminta pelaku industri memastikan gula rafinasi tetap digunakan sebagai bahan baku industri dan tidak beralih menjadi gula konsumsi.
"Kita juga minta dengan sangat kepada AGRI supaya gula rafinasi ini tidak bocor ke sektor konsumen," tegasnya.
Baca Juga: Kinerja Elnusa (ELSA) Tumbuh Dobel Digit hingga Kuartal III-2026, Ini Pendorongnya
Sarmuji mengatakan Kementerian Perindustrian akan memperkuat pengawasan bersama AGRI dan Kementerian Perdagangan. Pemerintah juga tengah mengidentifikasi celah yang berpotensi menyebabkan terjadinya perembesan gula rafinasi.
Supriadi menegaskan anggota AGRI berkomitmen menyalurkan gula rafinasi sesuai ketentuan yang berlaku. Ia juga menyebut pasokan tahun ini justru masih mengalami kekurangan, bukan kelebihan yang berpotensi merembes ke pasar konsumsi.
Dari sisi global, Supriadi menyebut penurunan produksi gula di sejumlah negara turut menekan pasokan dan harga raw sugar. Kondisi El Nino, geopolitik dan meningkatnya penggunaan tebu untuk bioetanol menjadi sejumlah faktor yang mempengaruhi pasar global.
Menurut dia, pasokan gula rafinasi Indonesia berasal dari sejumlah negara, termasuk Brasil dan Australia. Sementara produksi Thailand yang menurun turut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dinamika harga raw sugar impor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














