Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investasi di sektor infrastruktur digital Indonesia terus berkembang.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat ada sembilan calon investor berskala besar yang berminat membangun pusat data atau data center di Indonesia dengan total kebutuhan kapasitas listrik mencapai 2,7 Gigawatt (GW).
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan mengatakan, sebagian calon investor tersebut saat ini tengah mendapatkan pendampingan dari pemerintah.
Baca Juga: Laba Antam (ANTM) Melonjak 46% Jadi Rp 9,66 Triliun hingga September 2026
Sementara itu, calon investor lainnya masih dalam tahap pemantauan dan pendekatan untuk merealisasikan minat investasinya.
Namun, BKPM belum dapat mengungkap identitas investor maupun estimasi nilai investasi dari kesembilan proyek tersebut.
"Dalam catatan kami, ada sembilan minat data center yang akan masuk. Beberapa di antaranya itu sedang kita fasilitasi, kemudian ada yang sedang kita monitor dan berikan pendekatan untuk membidik minat mereka. Kapasitasnya lumayan, (totalnya) sekitar 2,7 gigawatt (GW)," ujar Ichwan saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (26/10/2026) malam.
Ichwan menjelaskan, kebutuhan daya setiap fasilitas pusat data bervariasi. Meski terdapat potensi proyek berkapasitas besar, mayoritas kebutuhan listrik diperkirakan berada pada kisaran ratusan megawatt (MW) untuk masing-masing fasilitas.
"Totalnya 2,7 giga, tapi kan dari masing-masing itu kan, yang nilainya sampai 1.000 (MW) kan masih sangat sedikit ya, rata-rata ya sekitar ratusan megawatt (MW) lah," ungkapnya.
Besarnya kebutuhan listrik tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diantisipasi pemerintah agar rencana investasi pusat data tidak terkendala keterbatasan pasokan energi.
Baca Juga: FEED Selesai, FID Proyek Abadi Masela Ditargetkan Rampung Awal 2027
Pasokan listrik jadi perhatian
Terkait wacana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang meminta investor pusat data berskala besar dengan kapasitas di atas 500 MW menyiapkan pasokan energi secara mandiri, Ichwan menilai usulan tersebut merupakan langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan permintaan listrik.
Menurut dia, penyediaan energi secara mandiri dapat menjadi salah satu opsi apabila kapasitas pasokan dari PT PLN (Persero) belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan operasional pusat data.
"Saya menduga Danantara menyampaikan itu mengetahui bahwa secara global kita sama-sama mengerti bahwa data center itu kan kebutuhan listriknya sangat luar biasa," terangnya.
Ichwan menambahkan, besarnya minat investasi pusat data perlu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur kelistrikan.
Tanpa perencanaan pasokan energi yang memadai, peluang investasi tersebut berisiko tidak terealisasi.
"Namun, mengingat bahwa data center yang akan masuk ke Indonesia ini minatnya lumayan besar, maka perlu diantisipasi ketika demand-nya terhadap listrik tinggi. Jangan sampai karena keterbatasan mensuplainya, karena kelebihan demand yang luar biasa, maka kemudian investasi ini menjadi batal masuk ke Indonesia," tambahnya.
Baca Juga: Pendapatan LTLS Capai Rp 8,2 Triliun di Kuartal III 2026, Laba Meningkat 63,1%
Regulasi masih dibahas
Meski demikian, skema penyediaan energi secara mandiri oleh investor pusat data belum memasuki pembahasan teknis antara Kementerian Investasi dan Danantara. Ichwan menyebut, hingga kini belum ada penyusunan draf regulasi khusus yang mengatur mekanisme tersebut.
Ke depan, penerapannya akan membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk merumuskan kebijakan yang dapat mengakomodasi kebutuhan energi industri pusat data.
Menurut Ichwan, pemerintah perlu memastikan tersedianya pilihan skema pasokan listrik yang memungkinkan investasi berjalan, baik melalui penyediaan energi secara mandiri oleh pengelola pusat data, dukungan kawasan industri, maupun pasokan dari PLN.
"Saya pikir spiritnya adalah jangan sampai ketika minat itu masuk, kemudian kita tidak punya policy yang bisa memberikan jalan keluar untuk penyediaan listriknya, baik secara mandiri oleh data center, ataupun oleh kawasan industri, ataupun oleh PLN," pungkasnya.
Baca Juga: Cahaya Aero Services (CASS) Umumkan Status Terbaru Anak Usaha CASB yang Dilikuidasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














