kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.944   -29,00   -0,16%
  • IDX 5.999   115,16   1,96%
  • KOMPAS100 778   14,20   1,86%
  • LQ45 588   9,58   1,66%
  • ISSI 208   4,74   2,33%
  • IDX30 333   5,83   1,78%
  • IDXHIDIV20 409   6,49   1,62%
  • IDX80 88   1,57   1,82%
  • IDXV30 111   2,39   2,20%
  • IDXQ30 107   1,91   1,82%

Pelaku Industri Dorong Percepatan Beras Fortifikasi untuk Tekan Kasus Hidden Hunger


Kamis, 25 Juni 2026 / 20:00 WIB
Diperbarui Kamis, 25 Juni 2026 / 20:01 WIB
Pelaku Industri Dorong Percepatan Beras Fortifikasi untuk Tekan Kasus Hidden Hunger
ILUSTRASI. Forum Beras fortifikasi (Dok/Aprindo)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menghadapi ancaman kelaparan tersembunyi (hidden hunger) akibat tingginya kasus kekurangan zat besi yang memicu anemia di berbagai daerah.

Di tengah kondisi tersebut, fortifikasi beras dinilai menjadi salah satu solusi paling efektif dan terjangkau untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat secara luas.

Baca Juga: Bidik Momentum Belanja Kebutuhan Liburan Sekolah, Begini Strategi Blibli

Dalam forum bertajuk "Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market" yang digelar di Jakarta, Rabu (24/6/2026), para pemangku kepentingan dari sektor industri, ritel, dan kesehatan membahas strategi memperluas akses masyarakat terhadap beras fortifikasi melalui pasar komersial.

Direktur Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) Nina Sardjunani mengatakan, fortifikasi pangan merupakan metode paling efisien untuk mengatasi kekurangan mikronutrien yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Menurut Nina, selama ini terdapat tiga pendekatan utama dalam mengatasi defisiensi mikronutrien, yakni diversifikasi pangan, suplementasi, dan fortifikasi.

Diversifikasi pangan dinilai sebagai pendekatan ideal karena mendorong masyarakat mengonsumsi makanan yang lebih beragam.

Namun, implementasinya tidak mudah mengingat keterbatasan daya beli sebagian masyarakat terhadap sumber pangan bergizi.

Baca Juga: Anggota Komisi XII Dukung Eksplorasi 118 Blok Migas Baru, Dorong Ketahanan Energi

Sementara itu, program suplementasi juga menghadapi tantangan karena tingkat kepatuhan masyarakat dalam mengonsumsi suplemen masih relatif rendah.

"Yang paling cost-effective adalah fortifikasi," ujar Nina dalam keterangannya.

Indonesia sebelumnya telah menerapkan berbagai program fortifikasi, seperti garam beryodium, tepung terigu yang diperkaya zat besi dan seng, serta minyak goreng yang diperkaya vitamin A.

Meski tepung terigu menjadi media fortifikasi yang efektif, Nina menilai beras memiliki potensi dampak yang jauh lebih besar karena merupakan makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia.

"Sebanyak 95% penduduk Indonesia mengonsumsi beras. Karena itu, beras menjadi kendaraan yang paling strategis untuk meningkatkan asupan mikronutrien masyarakat," katanya.

Ia menjelaskan, fortifikasi beras merupakan intervensi yang relatif mudah diterapkan karena tidak mengharuskan masyarakat mengubah pola konsumsi sehari-hari.

Konsumen tetap mengonsumsi nasi seperti biasa, namun memperoleh tambahan zat besi dan mikronutrien penting lainnya.

Dengan tambahan biaya produksi sekitar Rp1.000 per kilogram, fortifikasi beras dinilai mampu menghasilkan manfaat gizi yang signifikan bagi masyarakat.

Baca Juga: Pemerintah & Pengusaha Sepakat Evaluasi RKAB Nikel Mesti Jaga Keseimbangan Industri

Tantangan Hulu hingga Hilir

Meski menawarkan manfaat besar, pengembangan industri beras fortifikasi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada sisi produksi dan distribusi.

Anggota Advisory Committee Millers for Nutrition Budianto Wijaya mengatakan, industri penggilingan padi nasional masih sangat terfragmentasi, mulai dari penggilingan berskala besar hingga usaha kecil di tingkat desa.

Kondisi tersebut membuat proses standarisasi kualitas, pengawasan, serta distribusi produk menjadi lebih kompleks.

Saat ini, beras fortifikasi juga masih banyak dipasarkan sebagai produk premium yang dijual di ritel modern dan hanya menjangkau segmen konsumen tertentu.

Padahal, menurut Budianto, dampak kesehatan yang lebih luas dapat dicapai apabila beras fortifikasi masuk ke berbagai program pemerintah yang menyasar kelompok rentan.

Baca Juga: Hyundai Tetap Genjot Penjualan Mobil Listrik Meski Insentif Belum Jelas

"Potensi terbesar sebenarnya ada pada program bantuan pangan, intervensi kesehatan ibu dan anak, serta program Makan Bergizi Gratis," ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi agar beras fortifikasi dapat menjadi bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Saat ini, beberapa komoditas seperti garam dan minyak goreng yang digunakan dalam program tersebut sudah menerapkan fortifikasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×