kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.012.000   68.000   2,31%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

Pembelian 50 Pesawat Boeing di Perjanjian Dagang RI-AS untuk Regenerasi Armada


Minggu, 22 Februari 2026 / 15:33 WIB
Pembelian 50 Pesawat Boeing di Perjanjian Dagang RI-AS untuk Regenerasi Armada
ILUSTRASI. Pesawat Garuda Indonesia (Dok/GIAA). Pembelian 50 pesawat Boeing disebut untuk regenerasi armada Garuda. Tapi, ada fakta menarik tentang penurunan penumpang domestik.


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Poin pembelian 50 unit pesawat produksi Boeing oleh Indonesia dalam perjanjian dagang dengan Amerika Serikat (AS) dinilai ditujukan untuk penggantian atau regenerasi armada.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan, komitmen pembelian 50 pesawat Boeing tersebut tampaknya hanya untuk menggantikan B738-800 milik Garuda Indonesia.

"Yang mana, B738-800 Garuda usianya sudah mulai uzur sehingga kurang efisien," katanya kepada Kontan, Minggu (22/2/2026).

Baca Juga: Perjanjian Dagang RI-AS: Pemerintah Indonesia Dibatasi Kenakan Pajak Digital

Lebih lanjut, Alvin menekankan jumlah 50 pesawat memang terkesan banyak, tetapi sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Ia mencontohkan, maskapai Lion Air saja bisa memesan ratusan pesawat dalam satu transaksi.

Menurutnya, perlu diketahui juga bahwa pihak pembeli pesawat nantinya adalah perusahaan leasing, yang kemudian akan menyewakan secara jangka panjang kepada Garuda Indonesia.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pesanan 50 pesawat juga membutuhkan waktu beberapa tahun untuk delivery (pengiriman). Menurutnya, pengiriman pertama baru bisa dilakukan 3-4 tahun mendatang jika semua lancar.

Baca Juga: Perjanjian Dagang RI-AS Timpang

"Sisanya akan dipenuhi secara bertahap. Kecuali jika Garuda membeli atau mengambil alih order pihak lain yg sudah lebih dulu masuk," imbuh Alvin.

Lebih lanjut, hingga saat ini Boeing pun masih mengalami backlog (antrean pesanan) untuk pengiriman pesanan yang sudah ada. Sehingga, masa tunggunya disebut masih cukup lama.

Alvin menambahkan, pengadaan 50 pesawat adalah untuk kebutuhan masa depan, bukan untuk saat ini. Lagi pula, sejak tahun 2024, jumlah penumpang domestik di Tanah Air terus menurun.

Baca Juga: Ekonom Nilai Kesepakatan Dagang RI–AS Timpang, Industri dan Kedaulatan Terancam

Ia memaparkan, sepanjang 2025, jumlah penumpang penerbangan niaga berjadwal dalam negeri tercatat sebanyak 63.587.478 penumpang. Yang mana, menurun lebih dari 2,5 juta dari total penumpang domestik tahun 2024 sebanyak 65.820.592 penumpang.

"Maka, saat ini, maskapai-maskapai kita justru mengurangi jumlah pesawat karena mereka juga memangkas rute domestik yang tidak menguntungkan," terangnya.

Selanjutnya: Jadwal Buka Puasa Purwokerto Hari Ini (22/2/2026): Panduan Ibadah Ramadan Maksimal!

Menarik Dibaca: Promo Paket Bukber Burger King Hematnya Bikin Puasa Tenang, Mulai Rp 32 Ribuan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×