kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.268   -97,49   -1,53%
  • KOMPAS100 822   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,34   -1,31%
  • ISSI 217   -4,16   -1,89%
  • IDX30 351   -4,37   -1,23%
  • IDXHIDIV20 429   -5,35   -1,23%
  • IDX80 94   -1,42   -1,49%
  • IDXV30 118   -1,74   -1,46%
  • IDXQ30 112   -1,22   -1,08%

Pemerintah Kaji Pembatasan Pertalite Masyarakat Mampu Agar Subsidi Tepat Sasaran


Selasa, 11 Agustus 2026 / 19:53 WIB
Pemerintah Kaji Pembatasan Pertalite Masyarakat Mampu Agar Subsidi Tepat Sasaran
ILUSTRASI. Bahan Bakar Minyak (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan memperketat pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar lebih tepat sasaran. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sedang mengkaji skema pembatasan pembelian BBM Pertalite bagi masyarakat golongan mampu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menguji sistem PT Pertamina untuk bisa membatasi pembelian Pertalite berdasarkan profil ekonomi masyarakat. Nantinya, masyarakat golongan mampu seperti kelompok desil 9 dan desil 10 tidak bisa membeli BBM subsidi.

"Pertamina sedang menguji sistem. Saya sudah melihat sistemnya, mereka bisa saja yang desil 9, 10 tidak bisa beli yang bersubsidi. Dia mesti bayar harga Pertamax atau yang lain," ungkap Purbaya setelah menerima kunjungan Menteri ESDM pada Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: The Palace, Mondial dan Frank & co. Buka Magang untuk 60 Peserta, Program Kemenaker

Hanya saja, Purbaya belum mengungkapkan kapan pembatasan pembelian Pertalite untuk masyarakat mampu ini akan diterapkan. "Bukan sekarang ya, beberapa bulan kemudian kita bisa kurangi secara bertahap. Sedang kami pelajari sistemnya, saya juga sudah sempat melihat sistem Pertamina, sudah cukup baik sehingga siap bisa dilaksanakan. Belum tahu (kapan akan diterapkan)," ujar Purbaya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah ingin mengimplementasikan pola subsidi yang tepat sasaran. Bahlil mengamini selama ini sebagian produk subsidi masih diperjualbelikan dengan tidak tepat sasaran.

"Masa orang kaya harus kita subsidi, contoh Pertalite. Desil 9, desil 10 masih kena, masih dapat subsidi. Nah ini yang kita mulai bahas sistemnya segala macam. Supaya apa? angka subsidi yang ratusan triliun ini betul-betul diberikan kepada yang berhak menerimanya," ungkap Bahlil.

Bahlil mengatakan, pemerintah masih mengkaji berbagai skema pembatasan pembelian Pertalite, termasuk dari sisi jenis kendaraan. "Jangan (yang) pakai BMW, pakai Mercy, masa pakai minyak subsidi," imbuh Bahlil.

Tak hanya Pertalite, Bahlil juga menyampaikan pemerintah juga akan memperketat pembelian LPG subsidi agar bisa lebih tepat sasaran. "Semuanya lagi di-exercise. Kita pengin semua subsidi dari sektor migas itu tepat sasaran," tambah Bahlil.

Di tengah volatilitas harga minyak mentah dunia dan Indonesian Crude Price (ICP) yang tak menentu, Bahlil menegaskan pemerintah berkomitmen untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi. Selain itu, Bahlil mengatakan harga BBM non-subsidi akan mengikuti pergerakan harga minyak dunia.

"Harga ICP dunia yang tidak menentu sampai dengan sekarang kami punya komitmen atas dasar perintah Pak Presiden bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik. Ini yang paling penting. Kami juga merumuskan ketika harga (minyak) dunia itu turun, maka harga yang non-subsidi pun bisa melakukan penyesuaian dengan harga dunia," tandas Bahlil.

Baca Juga: Perkuat Kerja Sama Indonesia-Jerman Bidang EBT, Pemerintah Gelar ISEW 2026

Konsumsi Pertalite Meningkat

Sebelumnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan PT Pertamina Patra Niaga membeberkan adanya perubahan pola konsumsi BBM. Banyak konsumen yang kini beralih menggunakan BBM subsidi, yakni Biosolar dan Pertalite, pasca BBM non-subsidi mengalami kenaikan harga.

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman menyampaikan realisasi penyaluran BBM pada bulan Juli untuk Pertalite dan Biosolar berada di atas rata-rata konsumsi normal, yakni 104% untuk Pertalite dan 105% untuk Biosolar. "Peningkatan penyaluran tersebut masih dapat dilayani dan terus kami monitor secara harian," kata Taufik dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (16/7/2026).

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto menjelaskan bahwa perubahan perilaku konsumen yang beralih ke BBM subsidi terpantau setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi. Eko menggambarkan proporsi Pertalite terhadap konsumsi bensin naik 4,9% dari 75,4% (Januari - Mei 2026) menjadi 80,3% (Juli).

Sebaliknya, proporsi Pertamax turun 4,4% dari 23,2% menjadi 18,8%. Data tersebut mengindikasikan setelah kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026, terjadi peralihan (shifting) ke Pertalite. Akibatnya, rerata penyaluran Pertalite pada bulan Juli meningkat 9,4% atau naik 7.129 KL per hari dibandingkan rerata normal.

Berkebalikan dengan produk Pertamax Series (Pertamax, Pertamax Green 95 dan Pertamax Turbo) yang pada bulan ini telah mengalami penurunan hingga 18%. Konsumsi produk Pertamax Series anjlok 4.476 KL per hari dibandingkan rerata normal.

Baca Juga: Strategi Radiant Utama (RUIS) Jaga Pertumbuhan Pendapatan 5% Hingga Akhir 2026

Pola serupa terjadi pada konsumsi BBM jenis gasoil atau diesel. Proporsi Biosolar terhadap total konsumsi gasoil naik 1,2% dari 93% (Januari - Mei 2026) menjadi 94,2% (Juli). Pada periode yang sama, proporsi Dexlite turun 0,6% dari 4,1% menjadi 3,5%.

Pada bulan Juli ini, rerata penyaluran Biosolar melonjak 13,9% atau naik sebanyak 6.725 KL per hari dibandingkan rerata normal. Sementara itu, Dex Series (Dexliter dan Pertamina Dex) turun 6,4% atau menyusut 232 KL per hari dari rata-rata normal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×