kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.123   36,00   0,20%
  • IDX 5.930   5,55   0,09%
  • KOMPAS100 770   -0,44   -0,06%
  • LQ45 588   -0,86   -0,15%
  • ISSI 204   0,50   0,24%
  • IDX30 333   -0,51   -0,15%
  • IDXHIDIV20 412   -0,78   -0,19%
  • IDX80 88   -0,04   -0,04%
  • IDXV30 112   -0,21   -0,18%
  • IDXQ30 107   -0,23   -0,22%

Pemerintah Ubah Surplus Solar Jadi Avtur, Peluang Ekspor Terbuka


Senin, 13 Juli 2026 / 05:33 WIB
Pemerintah Ubah Surplus Solar Jadi Avtur, Peluang Ekspor Terbuka
ILUSTRASI. Pengisian BBM Avtur Pertamina (Dok/Pertamina)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah mulai menyiapkan langkah besar untuk mengubah potensi surplus minyak solar menjadi peluang bisnis baru.

Seiring meningkatnya kapasitas kilang domestik dan penerapan program biodiesel 50% (B50), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan Indonesia akan mengalami kelebihan pasokan solar dalam beberapa tahun ke depan.

Alih-alih membiarkan surplus tersebut menumpuk, pemerintah berencana mengolahnya menjadi bahan bakar pesawat atau avtur melalui pembangunan fasilitas pengolahan baru yang ditargetkan mulai dibangun pada akhir tahun ini.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, tambahan pasokan solar berasal dari optimalisasi kilang minyak nasional, terutama fasilitas di Kalimantan Timur yang mampu menghasilkan sekitar 5,6 juta kiloliter.

Baca Juga: Pengalihan Surplus Solar ke Avtur Perlu Teknologi Canggih dan Dana Jumbo

Menurut Bahlil, pemerintah bersama PT Pertamina masih menghitung besaran pasti surplus tersebut. Namun, volumenya diperkirakan mencapai jutaan kiloliter per tahun sehingga perlu diserap melalui pengembangan industri hilir.

"Langkah berikutnya adalah kita akan mendorong pembangunan fasilitas avtur. Karena bahan baku avtur hampir sama dengan solar," ujar Bahlil.

Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi hilirisasi sektor energi sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pengolahan minyak di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menilai pemanfaatan surplus solar merupakan langkah yang tepat. 

Namun, ia mengingatkan bahwa konversi solar menjadi avtur membutuhkan proses pengolahan lanjutan agar memenuhi standar bahan bakar penerbangan.

Menurut Hadi, secara teknis proses tersebut hanya dapat dilakukan di kilang modern yang memiliki fasilitas pengolahan memadai.

"Saat ini RDMP Balikpapan dan Kilang Cilacap secara spesifikasi teknis mampu melakukan itu," ujarnya.

Di sisi lain, rencana tersebut dinilai membuka peluang Indonesia menjadi pemain baru di pasar avtur regional.

Pakar energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memperkirakan kapasitas produksi avtur fosil nasional akan mencatat surplus atau net gap positif lebih dari 4,11 juta kiloliter pada 2026. 

Baca Juga: Mungkinkah Surplus Solar Dikonversi Jadi Avtur? Begini Kata Ahli Teknik Perminyakan

Dengan kapasitas tersebut, produksi dalam negeri diperkirakan bukan hanya mampu memenuhi seluruh kebutuhan avtur domestik, tetapi juga menghapus ketergantungan pada impor dan membuka peluang ekspor ke negara-negara Asia Tenggara.

Untuk bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF), Indonesia juga diproyeksikan mencatat surplus sekitar 0,23 juta kiloliter pada 2026.

Meski demikian, realisasi rencana tersebut tetap membutuhkan investasi besar. 

Yayan menjelaskan, jika pemerintah hanya mengubah rasio distilasi di kilang yang sudah ada, kebutuhan dananya relatif terbatas karena lebih bersifat biaya operasional.

Namun, apabila pemerintah membangun unit produksi avtur baru seperti yang direncanakan, investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat.

Manajer Riset dan Data Seknas Fitra Badiul Hadi menambahkan, pembangunan kilang baru membutuhkan dana jauh lebih besar. 

Baca Juga: Potensi Surplus Solar, Pemerintah Berencana Manfaatkan Menjadi Avtur

Sebagai gambaran, proyek Kilang Tuban berkapasitas 300.000 barel per hari diperkirakan memerlukan investasi sekitar US$ 16 miliar hingga US$ 18 miliar. 

Nilainya bahkan bisa melampaui US$ 20 miliar atau sekitar Rp 260 triliun hingga Rp 330 triliun apabila dilengkapi kompleks petrokimia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×