Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemulihan sektor penerbangan nasional membuka peluang pertumbuhan bagi penyedia jasa pendukung bandara, termasuk layanan ground handling.
Çelebi Aviation menilai peningkatan jumlah penumpang dan pulihnya pariwisata menjadi pendorong utama permintaan layanan operasional penerbangan di Indonesia.
Managing Director of Çelebi Aviation Indonesia Andy Dias mengatakan, prospek industri penerbangan domestik masih menarik dalam jangka panjang seiring posisi strategis Indonesia sebagai hub regional dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: Indomobil eMotor Tancap Gas Garap Pasar Motor Listrik Lewat QT Series
“Indonesia menawarkan peluang besar bagi layanan ground handling berkualitas tinggi. Pertumbuhan trafik penumpang dan penerbangan menciptakan kebutuhan terhadap layanan yang aman, efisien, dan sesuai standar internasional,” ujar Andy kepada Kontan, Jumat (6/2).
Saat ini, Çelebi Aviation telah beroperasi di 27 bandara di Indonesia, termasuk dua bandara utama, yakni I Gusti Ngurah Rai Bali dan Soekarno-Hatta Jakarta. Kedua bandara tersebut menjadi basis awal penguatan bisnis perusahaan di pasar domestik.
Data pergerakan penumpang menunjukkan Bandara I Gusti Ngurah Rai melayani sekitar 20,33 juta penumpang sepanjang Januari–Oktober 2025, sementara Bandara Soekarno-Hatta mencatat 45,07 juta penumpang pada periode yang sama. Volume ini menjadi indikator besarnya potensi pasar layanan pendukung penerbangan di Indonesia.
Baca Juga: Prodia (PRDA) Perluas Akses Layanan Genetika lewat Program WES untuk Penyakit Langka
Andy menilai, peningkatan trafik tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan efisiensi operasional dan kualitas layanan. Menurutnya, tantangan utama industri penerbangan tahun ini masih berkisar pada kapasitas infrastruktur, produktivitas operasional, serta tuntutan keberlanjutan.
“Tahun ini peluang pertumbuhan tetap solid, tetapi tantangan juga masih ada, terutama dari sisi efisiensi dan keberlanjutan. Kondisi ini mendorong pentingnya inovasi dan kolaborasi di seluruh rantai nilai industri penerbangan,” kata Andy.
Sebagai bagian dari strategi operasional, Çelebi Aviation mengadopsi penggunaan peralatan pendukung darat berbasis listrik (electric ground support equipment/GSE). Pendekatan ini ditujukan untuk menekan emisi karbon di area bandara sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang.
Selain aspek lingkungan, perusahaan juga memprioritaskan penguatan sumber daya manusia lokal melalui program pelatihan dan sertifikasi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan tenaga kerja dalam mendukung peningkatan frekuensi penerbangan dan standar layanan maskapai.
Sepanjang 2026, Çelebi Aviation akan memfokuskan strategi bisnis pada optimalisasi operasi di Bali dan Jakarta, sembari memantau peluang pertumbuhan di bandara-bandara lain sesuai dengan dinamika pasar.
Baca Juga: Bosch Optimalkan Teknologi untuk Membersihkan Endapan Lumpur Sisa Material Bencana
“Kami melihat Indonesia sebagai pasar jangka panjang. Fokus kami adalah membangun fondasi operasional yang kuat dan berkelanjutan, sejalan dengan pertumbuhan industri penerbangan nasional,” ujar Andy.
Dengan pulihnya mobilitas masyarakat dan meningkatnya aktivitas pariwisata, sektor ground handling diproyeksikan ikut terdorong. Çelebi Aviation menilai momentum ini menjadi peluang untuk memperkuat posisinya di segmen jasa pendukung penerbangan sekaligus berkontribusi pada efisiensi ekosistem aviasi nasional.
Selanjutnya: Harga Emas Antam Jumat 6 Februari Ambles Rp 100.000
Menarik Dibaca: Harga Emas Antam Jumat 6 Februari Ambles Rp 100.000
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












