CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Penerapan pajak karbon berpotensi naikan BPP, begini strategi PLN


Senin, 04 Oktober 2021 / 14:17 WIB
ILUSTRASI. PLTU milik PT PLN (Persero)


Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mulai mengantisipasi dampak yang mungkin timbul dari rencana pengenaan pajak karbon yang rencananya berlaku mulai 1 Januari 2022 mendatang.

Asal tahu saja, pemerintah akan mengimplementasikan pajak karbon per 1 Januari 2022. Pungutan pajak baru ini dikenakan terhadap badan yang bergerak di bidang pembangkit listrik tenaga uap batubara dengan tarif Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e) atau satuan yang setara.

Agenda tersebut tertuang dalam Rancangan Undang-Undang tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Calon beleid ini merupakan perubahan nama dari usulan sebelumnya yakni RUU tentang Perubahan Kelima atas UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril mengungkapkan, pihaknya siap mengikuti ketentuan pemerintah terkait pengenaan pajak karbon.

Kendati demikian, PLN belum melihat lebih rinci terkait regulasi yang bakal diterapkan tersebut. Yang terang, sejumlah upaya dekarbonisasi terus dilakukan PLN.

Bob menjelaskan, pengenaan pajak karbon berpotensi menaikkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Pembangkitan.

Baca Juga: Pajak karbon sebesar Rp 30 siap diimplementasikan 1 Januari 2022

"PLN adalah perusahaan yang highly regulated termasuk tarif dan model bisnis saat ini. Pengenaan pajak karbon akan menaikkan BPP dan tentu saja dengan skema tarif saat ini akan berkolerasi dengan subsidi dan kompensasi," jelas dia kepada Kontan.co.id, Senin (4/10).

Bob memastikan, saat ini PLN dalam pengembangan PLTU telah menggunakan teknologi terkini dengan efisiensi yang lebih tinggi. Selain itu, implementasi teknologi ini juga membuat PLTU lebih ramah lingkungan termasuk meminimalisir dampak energi karbon yang dihasilkan.

Dia melanjutkan, PLN pun kini terus melakukan transformasi dengan salah satu pilar yakni Green, di mana PLN telah meluncurkan green energy booster.

Program tersebut meliputi pembangunan pembangkit Energi Terbarukan (ET), penerapan cofiring pada PLTU serta konversi pembangkit diesel ke energi baru terbarukan (EBT).

"Kami juga sedang mengkaji penerapan teknologi carbon capture, utilization and storage (CCUS)," pungkas Bob.

Selanjutnya: Ribbit Capital jadi investor baru Bank Jago (ARTO)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×