Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren permintaan emas global yang terus meningkat dinilai menjadi momentum bagi perusahaan tambang nasional untuk memperkuat kapasitas produksi dan pengolahan logam mulia di dalam negeri.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menangkap peluang kenaikan harga emas sekaligus menekan defisit perdagangan emas Indonesia.
Berdasarkan data World Gold Council, total permintaan emas global pada kuartal I 2026, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton. Lonjakan harga emas turut mendorong nilai permintaan kuartalan melonjak 74% menjadi rekor US$193 miliar.
Permintaan emas batangan dan koin tercatat mencapai 474 ton atau naik 42%, menjadi level kuartalan tertinggi kedua sepanjang sejarah. Kenaikan terutama didorong investor Asia yang agresif memborong produk investasi emas.
Baca Juga: PGN Gelar Program Tukar Botol Plastik untuk Pengisian BBG
Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai peningkatan permintaan emas global memberikan peluang besar bagi perusahaan tambang pelat merah untuk meningkatkan kinerja usaha.
“Di saat demand terhadap emas tinggi, tentu sudah jadi sentimen positif bagi BUMN tambang emas. Kondisi seperti itu akan mendorong kenaikan harga. Karena itu, peningkatan produksi menjadi sangat penting,” ujar Herry dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
Menurut Herry, peningkatan produksi emas nasional memiliki dua manfaat utama. Pertama, membuka peluang kenaikan profit di tengah tren harga emas yang terus menguat. Kedua, membantu mengurangi defisit neraca perdagangan emas Indonesia.
Ia menyoroti sejak 2021 Indonesia tercatat mengalami defisit perdagangan emas dan menjadi net importer lantaran impor lebih besar dibanding ekspor guna memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Untuk memperkuat kapasitas industri emas nasional, anak usaha holding pertambangan MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), tengah membangun pabrik manufaktur emas logam mulia di Gresik, Jawa Timur.
Baca Juga: Graha Prima (GPRM) Resmi Jadi Distributor Dali Foods, Begini Strateginya di 2026
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 30 ton per tahun. Kehadiran fasilitas baru itu akan melengkapi kapasitas produksi emas Antam di Pulogadung, Jakarta, yang saat ini mencapai 40 ton per tahun.
Pasokan emas batangan untuk mendukung rantai produksi berasal dari tambang emas Antam di Jawa Barat sekitar 1 ton per tahun, serta Precious Metal Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia yang mampu mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan sekitar 50 hingga 60 ton per tahun.
Melalui rantai pasok terintegrasi tersebut, pemerintah bersama Grup MIND ID berupaya memperkuat ekosistem bullion nasional guna memenuhi permintaan emas logam mulia domestik yang diperkirakan mencapai sekitar 70 ton per tahun dan terus meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













