kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Pengusaha: Penjualan ritel belum kembali normal


Senin, 11 Desember 2017 / 17:26 WIB


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Dessy Rosalina

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan ritel yang diindikasikan hasil Survei Penjualan Eceran Oktober 2017 yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) mengalami perbaikan. Sebab, pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) secara year on year (YoY) di Oktober dan November tahun ini, lebih tinggi.

Artinya, pertumbuhan di Oktober yang sebesar 2,2% YoY, lebih tinggi dibanding September yang sebesar 1,8% YoY. Begitu juga pertumbuhan IPR di November yang diperkirakan sebesar 2,9% YoY, lebih tinggi dari Oktober.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengakui adanya perbaikan pada penjualan ritel offline mulai kuartal keempat tahun ini. Apalagi, menjelang perayaan Natal dan tahun baru.

Namun, "Perbaikannya sedikit, tetapi tidak bisa dikatakan lebih baik dari tahun lalu," kata Tutum kepada KONTAN, Senin (11/12).

Tutum melanjutkan, perbaikan penjualan ritel menjelang Natal dan tahun baru pada tahun ini juga diperkirakan hanya terjadi pada kota-kota besar saja. Sebab, perayaan Natal dan tahun baru yang cukup besar umumnya terjadi di kota-kota besar.

"Penjualan ritel saat ini belum kembali ke keadaan yang normal bagi kita," tambahnya. Keadaan normal yang dimaksud, yaitu adanya keuntungan dari pengeluaran yang dikeluarkan per toko dengan pendapatan yang diterima. Sementara keadaan saat ini, pengeluaran per toko membengkak, tetapi penerimaan tidak meningkat.

Pihaknya berharap daya beli masyarakat ke depan akan membaik. Pemerintah lanjut dia, perlu memerhatikan besarnya jumlah tenaga kerja yang tidak terserap. Tak hanya itu, kondisi dan situasi ekonomi juga perlu dijaga sehingga masyarakat kembali bergairah membelanjakan uangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×