kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Pengusaha Soroti Ketidakpastian di Balik Tarif Resiprokal AS Sebesar 10%


Kamis, 13 Agustus 2026 / 16:42 WIB
Pengusaha Soroti Ketidakpastian di Balik Tarif Resiprokal AS Sebesar 10%
ILUSTRASI. Pemerintah memastikan Indonesia terkena tarif resiprokal sebesar 10% yang diberlakukan Amerika Serikat (AS). (Dok/Pelindo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memastikan Indonesia terkena tarif resiprokal sebesar 10% yang diberlakukan Amerika Serikat (AS).

Di tengah upaya pemerintah menegosiasikan penurunan tarif tersebut, kalangan pengusaha menilai persoalan utama bukan hanya besaran tarif, tetapi juga ketidakpastian yang muncul dari kebijakan perdagangan AS.

Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana mengatakan, tarif resiprokal sebesar 10% pada dasarnya masih sejalan dengan tarif yang diterapkan AS terhadap sejumlah negara kompetitor Indonesia.

"Tarif resiprokal itu juga akan sama dengan yang diterapkan pada negara-negara kompetitor yang lain, saya kira tidak ada masalah. Masalahnya adalah ketidakpastian yang sedang dipertontonkan US," ujar Danang kepada Kontan, Kamis (13/8/2026).

Baca Juga: Prabowo: Pakai Motor Listrik Bisa Hemat Biaya hingga 70%

Menurutnya, negosiasi yang tengah dilakukan pemerintah untuk mendapatkan tarif yang lebih rendah tetap perlu didukung. Namun, pelaku usaha juga perlu menyiapkan langkah antisipasi terhadap berbagai kemungkinan dalam kebijakan perdagangan AS.

Danang menilai pasar AS memang memiliki peran penting bagi produk Indonesia. Namun, AS bukan satu-satunya pasar yang dapat menjadi tujuan ekspor. Karena itu, industri nasional dinilai perlu melakukan penyesuaian, termasuk melalui inovasi produk dan diversifikasi pasar ekspor.

"Negosiasi pemerintah masih berlangsung, kita dukung sepenuhnya. US memang pembeli besar saat ini, tapi bukan satu-satunya. Industri-industri kita akan secara alami menyesuaikan inovasi produk untuk pasar yang sesuai untuk diversifikasi market ekspor. Seharusnya tidak perlu terlalu khawatir," katanya.

Meski demikian, Danang mengatakan pelaku industri tetap berharap tarif resiprokal 10% tersebut dapat dihapus. Di saat yang sama, industri juga mulai mempersiapkan diri apabila tarif tersebut tetap diberlakukan.

Baca Juga: APSyFI Soroti Banjir Impor yang Menggerus Industri Tekstil

"Walaupun industri berharap dihapusnya tarif 10% itu, tapi juga bersiap menghadapinya," ujar Danang.

Ia menyebut sejumlah sektor industri berpotensi lebih rentan terdampak kebijakan tarif tersebut. Di antaranya industri tekstil, garmen, sepatu, serta produk kelistrikan.

Dengan kondisi tersebut, diversifikasi pasar ekspor menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan industri untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar AS. Selain itu, inovasi produk juga diperlukan agar produk nasional dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pasar ekspor lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×