kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.012.000   68.000   2,31%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

Penjualan properti selama bulan puasa turun 15%


Senin, 05 September 2011 / 16:56 WIB
Penjualan properti selama bulan puasa turun 15%
ILUSTRASI. Armenia dan Azerbaijan, beserta Rusia, mengatakan bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri konflik militer di wilayah Nagorno-Karabakh yang telah berlangsung lebih dari satu bulan lamanya.


Reporter: Maria Rosita | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Penjualan properti sepanjang Agustus 2011 melorot. Bagi pengembang properti, hal itu lumrah terjadi tiap kali bulan puasa. Masyarakat mengalihkan isi sakunya untuk berbelanja keperluan menjelang Lebaran.

PT Intiland Development Tbk., misalnya meraih penjualan rata-rata produk propertinya melorot 15% dalam sebulan kemarin. Menurut Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan Intiland, kondisi demikian berulang pada tiga masa. Yaitu, tahun ajaran baru, tahun baru, dan menjelang Lebaran. Khusus untuk Idul Fitri, perusahaan mesti mengadu taktik agar bisa memberi tunjangan hari raya.

"Karena ada tendensi penurunan penjualan, kami harus pintar-pintar memberi program tawaran menarik seperti memberi diskon supaya penjualan tetap tidak anjlok," kata Theresia kepada KONTAN, Senin (5/9).

Lebih dari 50% proyek yang dimiliki Intiland berupa perumahan. Karena itu, pengembang menawarkan pembelian dengan down payment (DP) bisa diangsur enam bulan. Itu berlaku untuk rumah kelas menengah maupun kelas menengah ke atas. Soalnya, Theresia menaksir menjual rumah lebih gampang ketimbang apartemen ataupun kawasan komersial.

Bahkan, menurut dia, pada periode tertentu Intiland menyiapkan hadiah-hadiah untuk pembelian proyek. Salah satunya, diskon 3%-5% untuk tiap unit apartemen melalui bazar. "Sadar atau tidak, justru ada pembeli tertentu yang menantikan momen low season untuk belanja properti. Kalau jeli, bisa menjadi keuntungan bagi pembeli. Sebenarnya ini celah potensial bagi pengembang," bisik Theresia.

Theresia mencontohkan, beberapa produk Intiland yang masih laris saat Ramadan yaitu Apartemen One Park Residences di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Padahal, kisaran harganya sudah Rp 1,2 miliar sampai Rp 2,3 miliar atau sekitar Rp 14 juta per meter persegi (m2).

Penjualan properti di Talaga Bestari, Tangerang, juga lumayan laku. Mulai dari rumah seharga Rp 500 juta sampai Rp 700 juta per unit. Lainnya, Kluster The Forest seharga Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar per unit. "Belum resmi diluncurkan tapi sudah laku semua lewat private selling," tambah dia.

Nah, untuk kembali menggenjot penurunan penjualan saat puasa, Intiland menyiapkan berbagai proyek baru dan mengembangkan proyek existing. Misalnya, kluster baru seluas 10 hektare di Lebak Bulus serta TB Simatupang, Jakarta Selatan. Intiland menargetkan penjualan tahun ini mencapai Rp 1,1 triliun. Adapun hingga semester I marketing sales sudah menyentuh Rp 501 miliar.

PT Metropolitan Land Tbk. menempuh strategi yang tak jauh berbeda. Selama bulan puasa, pengembang perumahan menengah ke bawah ini tidak meluncurkan kluster apapun. Langkahnya, selain dipercepat sebulan sebelum Ramadan, juga ditunda hingga September ini.

"September ini promo diaktifkan kembali, kebetulan ada bank yang memberi bunga tetap sebesar 7,5% selama dua tahun," ujar Wahyu Sulistio, Manajer Umum Komunikasi Metland.

Program tersebut berlaku hingga akhir September. Wahyu optimistis, strategi itu bisa membantu menggenjot penjualan usai Lebaran. Wahyu mengakui penjualan rata-rata landed house Metland menurun 10%. "Bukan karena lemahnya daya beli, tapi pembeli menahan diri dulu," terus dia.

Ketua Umum Real Estate Indonesia Setyo Maharso berpendapat penjualan properti menurun di bawah 15% sepanjang Agustus. Yang paling mencolok, terlihat pada perumahan kelas menengah dan menengah ke bawah. Masyarakat menunda membeli properti karena mendahulukan belanja keperluan Lebaran," ujar Setyo.

Sementara properti kelas menengah ke atas penurunannya tidak begitu mencolok. Contohnya apartemen milik PT Summarecon Agung Tbk. "Ketika ada pameran saya lihat masih ada reaksi pasar, proyek seperti ini tidak ada KPR. Jadi meskipun penjualan turun tapi tidak seret-seret banget," ujar Setyo. Setyo menaksir penjualan kembali pulih pertengahan September ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×