kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.909   -2,00   -0,01%
  • IDX 6.145   -48,07   -0,78%
  • KOMPAS100 792   -4,34   -0,55%
  • LQ45 606   -2,13   -0,35%
  • ISSI 215   -2,63   -1,21%
  • IDX30 336   -1,55   -0,46%
  • IDXHIDIV20 430   -1,49   -0,35%
  • IDX80 90   -0,52   -0,57%
  • IDXV30 117   -0,82   -0,70%
  • IDXQ30 110   -0,18   -0,16%

Penyaluran Rumah Subsidi Baru 45,73% dari Target, Daya Beli Jadi Kendala


Rabu, 07 Oktober 2026 / 14:53 WIB
Penyaluran Rumah Subsidi Baru 45,73% dari Target, Daya Beli Jadi Kendala
ILUSTRASI. Realisasi penyaluran FLPP hingga September 2026 (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran rumah subsidi hingga akhir kuartal III 2026 masih jauh dari target pemerintah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai daya beli masyarakat, terutama generasi muda, untuk memiliki rumah.

Berdasarkan data realisasi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), penyaluran hingga akhir kuartal III 2026 baru mencapai 160.070 unit atau 45,73% dari target 350.000 unit. Dari total realisasi tersebut, hanya 17 unit yang merupakan hunian vertikal, sedangkan mayoritas berupa rumah tapak.

Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai, rendahnya penyaluran rumah subsidi tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan perubahan gaya hidup generasi Z yang dinilai lebih memilih membelanjakan pendapatan untuk liburan atau mencari pengalaman.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Permintaan Apartemen Jakarta Justru Naik, Ini Penyebabnya

"Harus hati-hati menyimpulkan penurunan jumlah rumah subsidi karena Gen Z lebih memilih lifestyle untuk berlibur daripada membeli rumah. Menurut saya enggak sesimpel itu. Persoalan yang lebih fundamental adalah affordability dan bankability, yaitu kemampuan mereka dan apakah mereka layak dinilai oleh bank untuk bisa mencicil," ujar Ferry Rabu, (7/10/2026).

Menurut Ferry, persoalan kepemilikan rumah tidak hanya berkaitan dengan harga rumah. Calon pembeli juga harus memperhitungkan uang muka, biaya transaksi, kemampuan membayar cicilan secara konsisten, hingga kelayakan kredit yang menjadi pertimbangan perbankan.

"Setiap orang pasti punya keinginan untuk memiliki rumah, tetapi masalahnya kemampuan untuk masuk ke pasar perumahan ini memang semakin sulit dan semakin berat. Jadi bukan hanya soal harga rumahnya, tapi juga kemampuan menyediakan uang muka, biaya transaksi, kemudian apakah mereka bisa konsisten mencicil setiap bulannya, dan yang paling penting apakah mereka dinilai layak oleh bank," kata Ferry.

Kondisi tersebut dinilai semakin berat bagi konsumen berusia muda yang masih berada pada tahap awal karier. Pendapatan kelompok ini belum tentu tumbuh sejalan dengan kenaikan biaya hidup, sementara pembelian rumah membutuhkan komitmen pembiayaan dalam jangka panjang.

Selain tingkat pendapatan, profil dan riwayat keuangan calon debitur juga menjadi faktor penting dalam pengajuan KPR. Utang konsumtif maupun pinjaman online dapat memengaruhi penilaian bank terhadap kemampuan calon pembeli dalam memperoleh pembiayaan rumah.

Di sisi lain, gaya hidup generasi muda tetap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengelolaan daya beli. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari, perjalanan, hingga pengalaman membuat calon pembeli perlu mengatur ulang prioritas ketika dihadapkan pada komitmen pembelian rumah.

Baca Juga: Targetkan Cakupan 5G di 101 Kota, XLSMART (EXCL) Gelontorkan Capex Rp 20 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×