kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Perang Timur Tengah Bisa Pangkas Bisnis Pariwisata Indonesia Hingga 30%


Minggu, 08 Maret 2026 / 13:39 WIB
Perang Timur Tengah Bisa Pangkas Bisnis Pariwisata Indonesia Hingga 30%


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Efek memanaskan kondisi geopolitik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran berdampak besar ke berbagai bisnis. Salah satunya bisnis pariwisata.

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengatakan banyak wisatawan yang asalnya dari negara-negara Eropa sudah dipastikan terdampak. Pasalnya, wisatawan dari negara Eropa tidak bisa melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat.

"Terutama di sini kan yang akan terdampak itu adalah wisatawan dari Eropa dan Amerika yang bagian timur ya, East Coast. Eropa dan penerbangan ke Afrika," ujar Ketua Umum GIPI Hariyadi Sukamdani kepada Kontan, Minggu (8/3/2026).

Baca Juga: Pendapatan PGN (PGAS) Tumbuh 5% Jadi US$ 3,9 Miliar di 2025, Tapi Laba Turun 36%

Hariyadi menjelaskan bahwa dampak dari perang timur tengah (Timteng) terhadap bisnis pariwisata mencapai 30%.

"(Dampak penurunan) mungkin antara 20% sampai 30% lah turunnya. Antara segitu mungkin," ucapnya.

Dampak penurunan bisnis pariwisata hingga 30% terjadi jika perang AS-Israel dengan Iran berlarut-larut. Karena Haryadi berkaca pada konflik geopolitik antara Rusia dengan Ukraina.

"Ini dengan catatan perangnya terus-terusan gitu lho," kata  dia.

Haryadi menjelaskan bahwa dampak para wisatawan asal Eropa ini terjadi karena terhambatnya perjalanan menggunakan jalur udara atau pesawat.

"Nah, secara Timur Tengah itu kan ada tiga negara yang dia punya armada pesawatnya, pesawat komersialnya itu besar. Nah, jadi pasti akan terganggu. Itu ada Emirates, ada Qatar, ada Etihad," jelasnya.

Sehingga, Haryadi menyebut dengan kondisi geopolitik saat ini para pebisnis pariwisata hanya mengharapkan perjalanan domestik atau dalam negeri.

"Kami upayakan untuk stabil. Walaupun tadi saya bilang ini masalahnya tuh nggak semudah itu karena pariwisata ini kan bukan kebutuhan primer," beber Haryadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×