kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.734   15,00   0,08%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

Strategi MIND ID Kelola Sisa Hasil Produksi, Tekan Limbah B3 Hingga 38%


Selasa, 16 Juni 2026 / 17:33 WIB
Strategi MIND ID Kelola Sisa Hasil Produksi, Tekan Limbah B3 Hingga 38%
ILUSTRASI. Kontan - Mind ID Native Online (Dok. Mining Industry Indonesia/Mining Industry Indonesia)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mining Industry Indonesia (MIND ID) memanfaatkan kembali material sisa proses produksi sebagai bagian dari praktik pertambangan berkelanjutan. Holding Industri Pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menjalankan sejumlah langkah, salah satunya dengan menekan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) maupun non-B3.

Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi, mengungkapkan komoditas dan produk mineral seperti aluminium, bauksit, nikel, tembaga, dan timah semakin dibutuhkan untuk mendukung elektrifikasi, pengembangan baterai, kendaraan listrik, serta perluasan jaringan energi. Binahidra menegaskan, peningkatan pengelolaan mineral strategis tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan sisa hasil produksi yang bertanggung jawab.

"Karena itu, MIND ID menerapkan kerangka strategi keberlanjutan grup atau Sustainability Pathway. Salah satu fokusnya adalah minimisasi limbah melalui efisiensi operasional dan pemanfaatan kembali material hasil kegiatan pertambangan," kata Binahidra melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Senin (15/6/2026).

Baca Juga: Pemerintah Cari Investor Swasta dan MDB untuk Biayai Giant Sea Wall Jakarta

MIND ID mencatat volume limbah padat B3 yang dihasilkan turun sekitar 38% dalam dua tahun terakhir. MIND ID menekan volume limbah padat B3 dari sebesar  351 kiloton pada 2023 ke 279 kiloton pada 2024, dan kembali turun menjadi 217 kiloton pada 2025. 

Pada periode yang sama, limbah padat non-B3 turun dari 1.082 kiloton menjadi 956 kiloton. "Limbah B3 maupun limbah non-B3 terus menurun karena operasi dilakukan secara lebih efisien sehingga limbah yang dihasilkan semakin berkurang," ungkap Binahidra.

Binahidra menjelaskan, limbah Grup MIND ID dikelola secara mandiri maupun dengan menggandeng pihak ketiga berizin. Hasil pengelolaan limbah operasi tambang dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan operasional maupun pembangunan infrastruktur bagi masyarakat di sekitar daerah operasional.

Salah satu program yang sudah berjalan secara berkelanjutan adalah dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melalui Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka. Antam memanfaatkan slag feronikel menjadi batako dan paving block.

"Material slag diangkut dari area penampungan, dicampur dengan semen dan air, kemudian dicetak dan dikeringkan untuk menghasilkan produk konstruksi yang memiliki nilai tambah dengan total produksi tahunan mencapai 5.000 ton per tahun," terang Binahidra.

Sementara itu, PT Freeport Indonesia memanfaatkan tailing sebagai material agregat campuran paste backfill untuk operasi tambang bawah tanah dengan kapasitas pemanfaatan sekitar 1.500 kiloton per tahun. Sedangkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memanfaatkan slag nikel untuk pembangunan jalan, infrastruktur tambang, dan stabilisasi lahan dengan volume pemanfaatan mencapai 5.300 kiloton per tahun.

Menurut Binahidra, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah tidak lagi dipandang hanya sebagai kewajiban kepatuhan, tetapi telah menjadi bagian dari strategi penciptaan nilai dan pengelolaan risiko perusahaan. "Sustainability Pathway bukan sekadar alat pelaporan, tetapi instrumen untuk mengelola dampak, memitigasi risiko, dan menciptakan nilai tambah jangka panjang yang bermanfaat," tandasnya.

Baca Juga: PT NQI Gandeng Hosen-X Shenzen, Siap Perkuat Industri Energi Hijau di Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×