kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Permintaan Domestik Mumbul, Ekspor Baja Tergerus


Kamis, 05 Agustus 2010 / 09:26 WIB


Reporter: Herlina KD |

JAKARTA. Menurunnya volume ekspor besi dan baja selama semester I 2010 disinyalir akibat kenaikan permintaan dalam negeri.

Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan seiring perbaikan kondisi ekonomi permintaan produk baja untuk dalam negeri meningkat.

"Ini artinya kebutuhan dalam negeri meningkat," ujarnya Rabu (4/8). Sayangnya, Ansari tidak membeberkan berapa besar kenaikan permintaan produk baja di dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, hingga semester I tahun 2010 volume ekspor baja sebesar 471.704.40 kg atau turun sekitar 25,78% ketimbang periode yang sama tahun lalu yang mencapai 35.585.939 kg.

Namun, jika dilihat dari nilainya, ekspor besi dan baja pada semester I tahun 2010 ini mengalami kenaikan. Hingga semester I 2010 nilai ekspor besi dan baja Indonesia sebesar US$ 497.347.062. Nilai ini meningkat sekitar 10,47% ketimbang periode yang sama tahun 2009 yang sebesar US$ 450.202.584.

Ansari bilang, nilai ekspor baja meningkat akibat adanya kenaikan harga baja yang terjadi beberapa waktu lalu. Seperti diketahui sejak awal tahun ini harga baja mengalami kenaikan akibat kenaikan harga bijih besi. Meski saat ini harga baja sudah mulai terkoreksi, tapi kenaikan harga baja sejak awal tahun lalu sempat memberikan kontribusi pada peningkatan nilai ekspor besi baja.

Asal tahu saja, kebutuhan baja dalam negeri sekitar 10 juta ton per tahun. Sementara itu, suplai baja dari industri nasional hanya sekitar 6 juta ton. Sisanya sekitar 4 juta ton masih dipenuhi dari impor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×