kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.087.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.891   16,00   0,09%
  • IDX 7.389   -51,51   -0,69%
  • KOMPAS100 1.027   -9,91   -0,95%
  • LQ45 752   -7,70   -1,01%
  • ISSI 260   -2,22   -0,85%
  • IDX30 399   -2,52   -0,63%
  • IDXHIDIV20 491   -4,11   -0,83%
  • IDX80 115   -1,17   -1,01%
  • IDXV30 133   -1,68   -1,25%
  • IDXQ30 129   -0,54   -0,42%

Permintaan Ekspor Sawit Melambat akibat Konflik Timur Tengah, Biaya Logistik Melonjak


Rabu, 11 Maret 2026 / 13:57 WIB
Permintaan Ekspor Sawit Melambat akibat Konflik Timur Tengah, Biaya Logistik Melonjak
ILUSTRASI. Ketua Umum Gapki Eddy Martono (KONTAN/Sabrina Rhamadanty)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Permintaan ekspor minyak sawit untuk pengiriman baru mulai melambat setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi, menurut asosiasi produsen sawit Indonesia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu (11/3/2026).

Indonesia merupakan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Komoditas ini digunakan secara luas dalam produk makanan, kosmetik, hingga produk pembersih, dan menyumbang lebih dari setengah perdagangan minyak nabati global. Permintaan juga banyak datang dari negara berkembang seperti India.

Baca Juga: Permintaan Diproyeksikan Tumbuh, PGN Targetkan Volume Niaga Gas 877 BBTUD pada 2026

Ketua GAPKI Eddy Martono mengatakan, biaya pengiriman dan asuransi melonjak hingga sekitar 50% sejak konflik pecah.

Hal ini terjadi karena kapal harus mengambil rute pelayaran yang lebih panjang, sementara premi asuransi meningkat akibat risiko konflik.

“Ada sedikit penurunan permintaan karena biaya meningkat. Saat ini kami masih memenuhi kontrak yang sudah ditandatangani. Namun untuk kontrak baru, permintaannya mulai menurun,” ujar Eddy kepada wartawan dilansir dari Reuters.

Meski ekspor masih berjalan, perlambatan pengiriman berpotensi menyebabkan penumpukan stok di Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia. Kondisi ini bisa menekan harga minyak sawit di pasar global.

Baca Juga: Kemenperin: Industri Tekstil & Alas Kaki Siap Penuhi Kenaikan Permintaan Idul Fitri

Eddy menambahkan GAPKI belum memiliki estimasi pasti mengenai penurunan ekspor tersebut.

Namun indikasi pelemahan permintaan sudah mulai terlihat, dan perkiraan lebih jelas kemungkinan tersedia pada akhir Maret.

Tahun lalu, Indonesia mengirim sekitar 1,8 juta ton minyak sawit ke kawasan Timur Tengah, setara dengan sekitar 5% dari total ekspor sawit nasional.

Di sisi lain, permintaan dari pembeli utama seperti China dan India juga belum menunjukkan peningkatan karena stok minyak nabati di kedua pasar tersebut masih relatif stabil.

Seorang pedagang minyak nabati global yang berbasis di New Delhi mengatakan harga minyak sawit kini naik lebih cepat dibandingkan minyak kedelai dan minyak bunga matahari sejak konflik dimulai.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) Februari Naik ke US$ 68,79 per Barel

Kondisi ini membuat keunggulan harga minyak sawit semakin menyempit.

“Sebulan lalu harga minyak sawit yang tiba di India sekitar US$100 per ton lebih murah dibandingkan minyak kedelai. Sekarang selisihnya hanya sekitar US$30 per ton. Bahkan bagi pembeli di Eropa, minyak sawit menjadi lebih mahal karena biaya pengiriman yang lebih tinggi,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×