kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.939   -8,00   -0,04%
  • IDX 6.344   -7,43   -0,12%
  • KOMPAS100 833   -2,31   -0,28%
  • LQ45 631   -3,13   -0,49%
  • ISSI 219   -0,63   -0,29%
  • IDX30 354   -1,64   -0,46%
  • IDXHIDIV20 433   -1,50   -0,35%
  • IDX80 95   -0,31   -0,33%
  • IDXV30 120   -0,41   -0,34%
  • IDXQ30 113   -0,60   -0,53%

Permintaan Kuat, Aprisindo Optimistis Industri Alas Kaki Melaju di Semester II 2026


Kamis, 06 Agustus 2026 / 16:09 WIB
Permintaan Kuat, Aprisindo Optimistis Industri Alas Kaki Melaju di Semester II 2026
ILUSTRASI. Produk sepatu lokal (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) optimistis dengan prospek industri alas kaki pada paruh kedua tahun ini. Optimisme tersebut seiring dengan pencapaian positif kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki di kuartal II-2026.

Berdasarkan data Produk Domestik Bruto (PDB) terbaru, kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh sebesar 11,30% secara tahunan atau year-on-year pada kuartal II-2026. 

Pertumbuhan ini meningkat signifikan dibandingkan kuartal I-2026 sebesar 5,28% dan jauh melampaui pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32% serta pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.

Secara kumulatif, kelompok industri tersebut tumbuh 8,25% sepanjang semester I 2026, sedangkan secara kuartalan mencatatkan pertumbuhan 2,7%.

Baca Juga: Prospek Cerah Industri Bangunan Dorong Ekspansi Industri Keramik

Sekretaris Jenderal Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, capaian tersebut merupakan sinyal kuat bahwa permintaan, aktivitas produksi, dan daya saing industri alas kaki Indonesia masih terus menguat.

“Pertumbuhan dua digit ini menunjukkan bahwa industri alas kaki nasional bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah ketidakpastian perdagangan global. Ini menjadi modal penting untuk membangun optimisme pelaku usaha, menjaga keberlanjutan investasi, dan memperluas penyerapan tenaga kerja,” ujar Billie, Kamis (6/8/2026). 

Penyerapan Tenaga Kerja

Kinerja tersebut juga terlihat dari sisi ketenagakerjaan. Pada Februari 2026, kelompok industri kulit dan alas kaki menyerap sekitar 966.147 tenaga kerja, bertambah sebanyak 45.061 orang atau sekitar 4,9% dibandingkan Februari 2025.

Dari jumlah tersebut, sekitar 845.511 orang atau 87,5% merupakan pekerja formal, sedangkan 120.636 orang merupakan pekerja informal. Industri ini menyumbang sekitar 4,82% dari keseluruhan tenaga kerja industri pengolahan nonmigas.

Menurut Billie, besarnya proporsi pekerja formal menunjukkan bahwa industri alas kaki memiliki peran penting dalam menyediakan pekerjaan yang relatif terstruktur dan berkelanjutan.

“Industri alas kaki merupakan industri padat karya yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Setiap peningkatan pesanan dan kapasitas produksi akan berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, serta aktivitas ekonomi di wilayah industri,” jelasnya.

Dari sisi pasar domestik, konsumsi rumah tangga untuk sandang, termasuk pakaian dan alas kaki, mencapai sekitar Rp 103,72 triliun pada kuartal II-2026. Konsumsi tersebut tumbuh 3,52% secara tahunan dan 4,74% secara kumulatif sepanjang semester I 2026. 

Di pasar global, industri alas kaki Indonesia juga memiliki fondasi yang semakin kuat. Nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$ 7,98 miliar, meningkat 9,54% dibandingkan 2024, dengan volume sekitar 601 juta pasang. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir alas kaki terbesar di dunia. 

Baca Juga: Produksi Pertambangan Kuartal II-2026 Terkontraksi, Pemangkasan RKAB Jadi Biang Kerok

Momentum positif tersebut berlanjut pada awal 2026. BPS mencatat alas kaki menjadi salah satu komoditas utama ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Sepanjang Januari–Maret 2026, komoditas alas kaki memberikan surplus perdagangan nonmigas sekitar US$ 1,49 miliar.

Kepercayaan investor juga tercermin dari realisasi investasi pada kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki. Pada 2025, realisasi investasi mencapai sekitar Rp 25,83 triliun, meningkat hampir 70% dibandingkan realisasi 2024 sebesar Rp 15,20 triliun.

Pada kuartal I 2026, realisasi investasi kelompok industri tersebut telah mencapai sekitar Rp 5,83 triliun. Capaian ini menunjukkan berlanjutnya pembangunan kapasitas produksi, modernisasi mesin, serta pengembangan fasilitas industri.

Aprisindo memandang bahwa pertumbuhan yang tinggi perlu dijaga melalui kolaborasi pemerintah dan dunia usaha. S

ejumlah aspek yang perlu terus diperkuat meliputi kepastian akses pasar ekspor, ketersediaan bahan baku, efisiensi logistik dan energi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, modernisasi mesin, akses pembiayaan. Serta pengawasan terhadap produk impor ilegal dan barang sepatu tiruan yang tidak memenuhi ketentuan. 

“Termasuk munculnya hambatan industri lainnya seperti sertifikasi halal yang harus diantisipasi jangan sampai menjadi Bottleneck baru dengan beban biaya dan syarat administrasi yang menjadi bebean pelaku industri,” tambahnya. 

Perluasan pasar akses melalui berbagai perjanjian perdagangan, termasuk I-EU CEPA, juga perlu dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar tertentu dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok alas kaki global. 

“Data menunjukkan bahwa industri alas kaki memiliki peluang yang sangat besar. Tantangan tetap ada, tetapi tidak boleh mengurangi optimisme. Dengan kebijakan yang mendukung daya saing dan komitmen industri untuk terus meningkatkan produktivitas, kami yakin semester II 2026 dapat menjadi periode konsolidasi sekaligus ekspansi,” ujar Billie.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×