CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Perusahaan tambang batubara gencar garap proyek hilirisasi dan energi hijau


Selasa, 27 Juli 2021 / 19:23 WIB
Perusahaan tambang batubara gencar garap proyek hilirisasi dan energi hijau
ILUSTRASI. Sejumlah kapal tongkang pengangkut batubara.ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen batubara dihadapi pada bauran energi terbarukan yang semakin besar di masa yang akan datang. Tantangan ini justru disikapi dengan makin gesitnya  perusahaan batubara mengembangkan hilirisasi dan masuk ke sektor energi baru terbarukan (EBT).

Sekretaris perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI),  Dileep Srivastava  mengatakan, pihaknya menyadari di masa yang akan datang, terjadi peningkatan peran energi terbarukan. Maka dari itu, BUMI secara aktif mengeksplorasi sejumlah bidang-bidang bisnis yang berkelanjutan. 

"Pertama, melalui PT Kaltim Prima Coal dan PT Pendopo Energi Batubara, kami menawarkan tenaga surya. Kemudian, menjajaki kelayakan berbagai proyek energi hijau," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (27/7). 

Selain itu, masih bersama dengan anak usahanya Kaltim Prima Coal, BUMI menggarap gasifikasi batubara menjadi metanol dengan kapasitas 1,8 juta ton per tahun. "Proyek hilir batubara seperti metanol dan bahan kimia sesuai dengan prioritas nasional," ujarnya. 

Baca Juga: Kinerja operasional United Tractors (UNTR) tumbuh positif pada semester I 2021

Melansir laporan Kontan.co.id sebelumnya, Kaltim Prima Coal menggarap pembangunan fasilitas pengolahan batubara menjadi metanol di Bengalon, Kalimantan Timur. Di proyek tersebut, BUMI selaku bagian dari Grup Bakrie berkolaborasi dengan Ithaca Group dan Air Product. Nantinya, proyek ini akan comissioning pada 2024 mendatang. 

Tak hanya itu, Dileep mengatakan, BUMI juga melakukan diversifikasi pendapatan dan meningkatkan nilai dalam waktu dekat melalui investasi di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang meliputi logam ( emas, seng , tembaga & timah). 

Dileep belum bisa buka-bukaan mengenai berapa investasi yang disiapkan untuk agenda bisnis hilirisasi dan proyek energi hijau karena saat ini prioritas utama BUMI adalah membayar utang. 

"Untuk saat ini, minat kami adalah memasok batubara untuk gasifikasi hilir dan proyek terkait (seperti metanol & bahan kimia). Secara bersamaan, terlibat dalam mengidentifikasi proyek-proyek lain yang menjanjikan," tandasnya. 

Emiten pertambangan batubara yang juga gesit menggarap bisnis energi terbarukan adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Berawal dari bisnis yang berorientasi pada ekspansi angkutan batubara, pembangkit listrik, dan hilirisasi batubara. Kemudian dengan adanya Paris Agreement, PTBA menambah dua pilar bisnis, yakni masuk ke bisnis Energi Baru terbarukan (EBT) dan menjajaki manajemen karbon.

Direktur Utama Bukit Asam, Suryo Eko Hadianto mengatakan selama ini PTBA sudah menjalankan sejumlah proyek pengembangan EBT. "Sudah ada sejumlah jejak yang ditorehkan Bukit Asam dalam  berkontribusi di sektor EBT, salah satunya bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II membangun PLTS berkapasitas 241 KWP dengan nilai investasi sebesar US$ 194.400," jelasnya beberapa waktu lalu. 

Selain dengan AP II, PTBA juga sudah memiliki beberapa pilot project di beberapa daerah menggunakan dana CSR. Adapun saat ini PTBA juga sedang menjajaki beberapa peluang untuk pengembangan EBT yang rencana investasinya sudah masuk dalam anggaran. 

 

 

Suryo memaparkan beberapa peluang tersebut, antara lain proyek PLTS Terapung Dam Sigura-gura INALUM dengan kapasitas 2x500 kWp. Kemudian pengembangan PLTS di bandara lainnya untuk mengusung green airport concept. Lainnya, penjajakan pengembangan PLTS di Jasa Marga Bali Mandara dan PLTS di Pelindo II-IPC (Jalan tol Cibitung - Cilincing).

Tak hanya itu, PTBA juga mencanangkan bahwa proyek gasifikasi akan menjadi pilar bisnis perusahaan di masa yang akan datang. Suryo memastikan proyek gasifikasi akan segera berjalan yang ditandai dengan  penandatanganan Amandemen Perjanjian Kerja Sama Pengembangan DME antara PTBA, PT Pertamina, dan Air Products & Chemicals, Inc. (APCI). 

Rencananya, proyek ini akan dilakukan di Tanjung Enim selama 20 tahun. Dengan utilisasi 6 juta ton batu bara per tahun, proyek ini dapat menghasilkan 1,4 juta DME per tahun untuk mengurangi impor LPG 1 juta ton per tahun sehingga dapat memperbaiki neraca perdagangan.

Selanjutnya: Strategi Bukit Asam (PTBA) jadikan gasifikasi salah satu pilar bisnis ke depan

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×