kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

PHE Garap Potensi Natural Hydrogen di Ampana, Bidik Peran Lead Operator


Jumat, 14 Agustus 2026 / 15:42 WIB
PHE Garap Potensi Natural Hydrogen di Ampana, Bidik Peran Lead Operator
ILUSTRASI. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) (DOK/PHE)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mendorong percepatan pengembangan natural hydrogen sebagai sumber energi baru nasional. Anak usaha Pertamina ini siap memimpin eksplorasi energi bersih untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi. 

Langkah ini direalisasikan melalui pembentukan Natural Hydrogen Taskforce bersama Kementerian ESDM, BRIN, dan perguruan tinggi.

PHE bersama kementerian dan peneliti telah menggelar studi regional untuk mengidentifikasi potensi hidrogen alami. Salah satu kawasan yang masuk dalam pemetaan kajian geologi tersebut berada di Ampana, Sulawesi Tengah. 

Baca Juga: KADI Mulai Selidiki Antidumping Produk Penyerap Cairan SAP dari Tiongkok

Indikasi kemunculan gas atau api alami di wilayah tersebut menjadi modal penting bagi riset tahap selanjutnya. Perseroan berencana memperkuat bukti ilmiah agar perhitungan potensi sumber daya dapat dilakukan secara presisi.

Direktur Eksplorasi PHE Asep Samsul Arifin menyebut akumulasi hidrogen alami merupakan peluang energi masa depan. Ia menekankan pentingnya kerangka regulasi dan perizinan yang jelas dari pemerintah untuk kegiatan komersialisasi. 

Menurutnya, kepastian aturan dibutuhkan untuk mengintegrasikan proses eksplorasi hingga tahap pemasaran produk. Regulasi yang tepat akan memastikan pengelolaan kekayaan negara ini berjalan sesuai ketentuan hukum berlaku.

Asep menyampaikan, tahapan pengembangan hidrogen alami memerlukan kepastian hukum yang kuat dari pemerintah. Langkah transisi dari pembuktian ilmiah menuju tahap produksi industri harus terintegrasi dengan kesiapan pasar. 

“Dari scientific evidence, langkah berikutnya adalah bagaimana kita dapat melakukan eksplorasi dan produksi, kemudian masuk ke market. Untuk itu dibutuhkan kerangka regulasi dan perizinan yang jelas karena sumber daya ini merupakan kekayaan negara dan pengelolaannya harus berada dalam kerangka yang ditetapkan oleh negara,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (14/8/2026).

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai, Indonesia berpeluang menjadi pionir. Pasalnya, perkembangan natural hydrogen secara global saat ini sebagian besar masih berada pada tahap riset. 

Menurutnya, posisi tersebut memberi ruang besar bagi Indonesia untuk membangun kapasitas nasional serta ekosistem sejak awal. Kesiapan ilmu pengetahuan dan potensi sumber daya domestik menjadi fondasi utama akselerasi teknologi ini.

Stella menekankan pentingnya memanfaatkan momentum perkembangan awal natural hydrogen di tingkat global saat ini. Indonesia dinilai memiliki modal kuat dari sisi potensi alam maupun perkembangan sains yang terus berjalan. 

Baca Juga: APINDO Soroti Hambatan Sektor Riil yang Mengganjal Investasi

“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi bagian dari perkembangan awal natural hydrogen secara global. Dengan potensi sumber daya yang kita miliki dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berjalan, Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun kapasitas nasional sejak sekarang,” terangnya.

Di sisi lain, Komisaris PHE, Nanang Untung menyoroti kesamaan karakteristik teknis antara hidrogen alami dan migas. Kapabilitas hulu migas yang dimiliki PHE dianggap sangat relevan untuk menggarap potensi bawah permukaan tersebut. 

Pengalaman subsurface, pengeboran, hingga pengelolaan fasilitas migas dinilai menjadi modal utama dalam eksplorasi hidrogen. Oleh karena itu, PHE berada pada posisi yang kuat untuk mengemban amanah sebagai National Lead Operator.

Nanang menegaskan pentingnya keberadaan operator utama yang berpengalaman untuk mengawal seluruh proses pengembangan energi tersebut. PHE didukung oleh ekosistem Pertamina yang solid mulai dari teknologi, engineering, hingga komersialisasi produk. 

“Indonesia membutuhkan lead operator yang memiliki kemampuan teknis sekaligus ekosistem yang kuat untuk membawa natural hydrogen dari tahap scientific evidence menuju eksplorasi dan pengembangan. Dengan pengalaman PHE di industri hulu migas dan dukungan ekosistem Pertamina, kami melihat PHE memiliki kapabilitas yang sangat relevan untuk mengambil peran tersebut,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×