kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

PLN Dapat PMN Rp 10 Triliun di 2023, Sebagian Besar Dialokasikan untuk Listrik Desa


Kamis, 29 September 2022 / 15:15 WIB
Foto udara pekerja melakukan pemeliharaan transmisi  jaringan kabel Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, Senin (13/6/2022).


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan mendapatakan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 10 triliun pada 2023.  Anggaran ini akan digunakan untuk sejumlah keperluan di mana alokasi terbesar untuk membangun infrastruktur ketenagalistrikan di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T). 

Direktur Distribusi PLN, Adi Priyanto menjelaskan, PLN menggunakan PMN Rp 10 triliun untuk sejumlah keperluan. 

Untuk pembangkit-pembangkit daerah terpencil sebesar Rp 1,7 triliun, kemudian transisi gardu induk untuk daerah terpencil atau 3T sekitar Rp 3,7 triliun, dan listrik desa Rp 4,4 triliun. 

Adi menjelaskan, fokus utama penyaluran PMN untuk listrik desa karena rasio elektrifikasi PLN sampai dengan Juni 2022 baru sebesar 97,4% atau jauh dari target yang ditetapkan untuk menjadi 100%. 

Baca Juga: PLN Batalkan Program Konversi Kompor Listrik, Ini Alasannya

Ada beberapa daerah yang rasio elektrifikasinya masih di bawah 95% di antaranya Papua Barat, Maluku Utara, daerah NTT, Sumatra dan juga  pedalaman Riau. 

“PMN itu digunakan untuk melistriki terutama kepada saudara-saudara kita yang ada di daerah 3T seperti perbatasan negara, daerah terpencil di pedalaman Papua supaya mendapatkan jaringan dan akses listrik yang sama dengan kita yang ada di daerah lainnya,” jelasnya dalam acara Ngopi BUMN, Rabu (29/8). 

Sejatinya, Adi mengungkapkan investasi pembangunan infrastruktur kelistrikan atau rupiah sambungan per pelanggan di daerah 3T membutuhkan biaya yang besar khususnya bagi daerah yang berada di luar jaringan. 

Sebagai gambaran, biaya sambungan rupiah per pelanggan di daerah Bogor hanya sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per pelanggan, sedangkan di Madura biaya rupiah persambungnya sampai Rp 45 juta per pelanggan. 

Baca Juga: Jokowi Restui PLN Dapat Suntikan PMN Sebesar Rp 5 Triliun

Lalu di Sumatra dan Kalimantan sekitar Rp 35 juta per pelanggan, kemudian untuk Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara sekitar Rp 25 juta per pelanggan.

Adi memberikan gambaran lebih rinci, biaya listrik per pelanggan menjadi lebih mahal di daerah terpencil karena jauh dari sumber jaringan.




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×