kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Rupiah Loyo Menekan Margin, Sharp Indonesia Catat Pertumbuhan, Simak Strateginya


Senin, 22 Juni 2026 / 16:57 WIB
Rupiah Loyo Menekan Margin, Sharp Indonesia Catat Pertumbuhan, Simak Strateginya
ILUSTRASI. Sharp Electronics Berkolaborasi dengan Karakter Sanrio (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)menjadi tantangan bagi industri elektronik nasional. Selain meningkatkan biaya impor komponen dan bahan baku, kondisi tersebut turut menekan margin keuntungan produsen di tengah upaya menjaga daya beli konsumen.

Meski demikian, beberapa perusahaan elektronik masih membukukan pertumbuhan. Salah satunya Sharp Electronics Indonesia. Namun, perusahaan harus melakukan penyesuaian harga untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi.

Andry Adi Utomo, Senior General Manager National Sales Sharp Electronics Indonesia mengatakan, di tengah kurs rupiah yang melemah, penjualan Sharp pada kuartal pertama 2026 masih tumbuh sekitar 4%-5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu/ 

"Masalahnya keuntungan kami tertekan oleh kenaikan harga material dan penguatan dolar AS. Bahan untuk berbagai komponen mengalami kenaikan, terutama plastik yang menyumbang sekitar 70% bahan baku produk," ujar Andry, Minggu (21/6).

Menurutnya, ketergantungan terhadap bahan berbasis plastik membuat sejumlah produk elektronik cukup sensitif terhadap kenaikan harga material. Pada produk mesin cuci misalnya, sekitar 70% komponen menggunakan material plastik.

Sharp sebenarnya telah menerapkan strategi lindung nilai (hedging) pada level kurs sekitar Rp 16.800 per dolar AS. Namun, hedging itu sudah "lewat",  Kenaikan biaya bahan baku tetap mendorong perusahaan melakukan penyesuaian harga produk.

Tercatat kenaikan harga akibat pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS sekitar 10%-12%. Meski demikian, Andry mengaku respons pasar tetap positif. Bahkan, penjualan perusahaan masih menunjukkan pertumbuhan di tengah kenaikan harga tersebut.

"Cukup unik, setiap kali kami menaikkan harga justru konsumen bergegas membeli produk elektronik. Mungkin daya beli terbantu oleh berbagai program pemerintah. Selain itu, pertumbuhan lapangan kerja dan industri pendukung juga ikut berkontribusi," katanya.

Baca Juga: Produk Teh PTPN I Ekspansi ke Inggris, Bidik Pasar Premium Global

Kinerja penjualan juga tercermin dari pencapaian Sharp Electronics Indonesia selama gelaran Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2026. Perusahaan mencatat peningkatan penjualan hingga 120% dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara pada kuartal I 2026, penjualan pendingin ruangan (AC) menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan bisnis perusahaan. Pencapaian ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan biaya produksi dan dinamika nilai tukar, perusahaan masih mampu menjaga momentum pertumbuhan penjualan.

Di tengah tantangan bisnis tersebut, Sharp juga terus menjalankan program keberlanjutan. Salah satunya melalui kegiatan Sharp Run for the Future. 

Sebanyak 600 peserta mengikuti kegiatan lari sejauh 6 kilometer yang mengambil rute di kawasan Spark Senayan dan Car Free Day Sudirman, Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, setiap peserta juga berkontribusi pada program penanaman 600 pohon di kawasan Suaka Elang yang bekerja sama dengan organisasi Hutan Itu Indonesia.

Presiden Direktur, Shinji Teraoka mengatakan, penanaman pohon tersebut akan dilaksanakan pada 8 Juli 2026 sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan.

"Selama 56 tahun berakar di Indonesia, kami percaya keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan bisnis, tetapi juga kontribusinya kepada masyarakat dan lingkungan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×