kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.771   30,00   0,17%
  • IDX 6.522   116,06   1,81%
  • KOMPAS100 849   15,70   1,88%
  • LQ45 641   8,52   1,35%
  • ISSI 230   4,91   2,18%
  • IDX30 358   4,21   1,19%
  • IDXHIDIV20 437   4,93   1,14%
  • IDX80 97   1,66   1,75%
  • IDXV30 122   1,89   1,57%
  • IDXQ30 114   1,08   0,96%

Polemik impor jagung 100.000 ton, ini klarifikasi Mentan Amran


Rabu, 07 November 2018 / 08:24 WIB
ILUSTRASI. Menteri Pertanian bersama Dirut Bulog meninjau kestabilan harga beras


Reporter: | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Terkait dengan polemik impor jagung sebanyak 50.000 ton hingga 100.000 ton jagung yang terus memanas, Menteri Pertanian Amran Sulaiman memberikan klarifikasinya. Menurut Amran, impor dilakukan untuk cadangan.

"Bulog yang mengimpor karena peternaknya yang minta," kata Amran di Kantor Kemtan, Selasa (6/11).

 Kemtan mengklaim sudah berhasil mengekspor 380.000 ton jagung dan menyetop impor dari Amerika dan Argentina sejumlah 3,6 juta ton. Sehingga total yang berhasil terselamatkan berjumlah sekitar 4 juta ton atau setara Rp 12 triliun.

"Kita sudah menyetop impor, malah ekspor lagi, jadi Rp 12 triliun kita terselamatkan karena jagung. Prestasi enggak Indonesia?" ungkapnya.

Sebelumnya, Indonesia sempat mengimpor jagung sejumlah 3,6 juta ton dengan nilai Rp 10 triliun. Saat ini produksi jagung lokal surplus di angka 8,6 juta ton namun ini serap oleh perusahaan besar yang kemudian tidak mengimpor gandum untuk pakan, sehingga peternak ayam merasa jagung dipasaran harganya tinggi.

Amran menyebut bahwa impor 50.000 sampai 100.000 ton jagung itu tetap dalam pengawasan. Tujuannya mengantisipasi jika harga jagung bisa turun ke depannya.

"Ini kita baru mau impor oleh Bulog. Itu pun pemerintah yang impor, bukan dilepas. Kalau nanti harga di pasar turun, enggak akan dikeluarin. Sebagai alat kontrol aja," tegasnya.

Jumlah impor yang sangat sedikit ini memang seharusnya terserap oleh petani jagung. Namun Amran masih enggan menjelasakan mengapa pemerintah tidak memanfaatkan petani jagung lokal.

"Kecil sekali, saya sih berharap begitu (diambil dari petani jagung lokal), terserap," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×