kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.839   37,00   0,22%
  • IDX 8.307   15,76   0,19%
  • KOMPAS100 1.174   2,25   0,19%
  • LQ45 842   -0,22   -0,03%
  • ISSI 297   1,10   0,37%
  • IDX30 437   0,64   0,15%
  • IDXHIDIV20 521   0,70   0,13%
  • IDX80 131   0,29   0,22%
  • IDXV30 144   0,99   0,69%
  • IDXQ30 141   -0,14   -0,10%

Stok Kedelai Surplus 176.000 Ton hingga Maret 2026, Pasokan Aman Jelang Lebaran


Rabu, 11 Februari 2026 / 21:27 WIB
Stok Kedelai Surplus 176.000 Ton hingga Maret 2026, Pasokan Aman Jelang Lebaran
ILUSTRASI. Dampak fluktuasi harga kedelai (ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah memastikan ketersediaan pangan strategis nasional berada dalam kondisi aman hingga akhir Maret 2026, termasuk komoditas kedelai yang menjadi bahan baku utama industri tahu dan tempe.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyampaikan, proyeksi neraca pangan 2026 menunjukkan pasokan komoditas utama berada di atas kebutuhan konsumsi, meliputi beras, jagung, kedelai, daging sapi dan kerbau, daging ayam, telur ayam, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula konsumsi, serta cabai.

Berdasarkan neraca pangan hingga akhir Maret 2026, ketersediaan kedelai nasional tercatat sekitar 629.000 ton, sementara kebutuhan konsumsi Februari–Maret 2026 sebesar 453.900 ton. Dengan demikian, neraca kedelai masih mencatat surplus sekitar 176.000 ton.

Baca Juga: Produksi Kedelai Kelompok Tani Binaan PT KBI Naik 43%

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga menyatakan, stok kedelai dalam negeri dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Idulfitri 2026.

“Menjelang, selama, dan pasca bulan puasa Ramadhan dan Idul Fitri stok kedelai di dalam negeri selalu tersedia. Rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,5 bulan, khususnya bagi perajin tempe dan tahu nasional,” ujar Hidayatullah dalam keterangannya, Rabu (11/2).

Saat ini konsumsi kedelai nasional diperkirakan mencapai 2,7 juta–2,9 juta ton per tahun. Sekitar 90% kebutuhan tersebut masih dipenuhi dari impor, sementara sisanya berasal dari produksi dalam negeri.

Hidayatullah menambahkan, pola permintaan kedelai pada periode Ramadan dan Lebaran relatif stabil. Bahkan, berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), permintaan justru berpotensi turun hingga 30%.

Baca Juga: Industri Tempe Tahu Masih Bergantung Impor, Gakoptindo Minta Segmentasi Pasar Kedelai

“Hal ini karena sebagian perajin tahu dan tempe terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya mulai pulang kampung sekitar dua minggu menjelang hari raya dan kembali sekitar dua minggu setelahnya,” katanya.

Dari sisi harga, Akindo menilai kenaikan harga kedelai di sejumlah wilayah Jawa Timur masih berada dalam rentang wajar. Di beberapa daerah seperti Surabaya, Jember, Malang, Bondowoso, Situbondo, Blitar, Ponorogo, dan Tuban, harga kedelai di tingkat perajin tercatat berada di kisaran Rp10.000 per kilogram atau di bawahnya.

“Secara umum, harga di tingkat perajin masih dalam rentang yang relatif wajar,” ujar Hidayatullah.

Menurut Akindo, harga tersebut masih sejalan dengan struktur biaya yang mencakup harga di tingkat importir serta ongkos transportasi dan distribusi dari pelabuhan ke sentra perajin.

Baca Juga: Program MBG Berpotensi Dorong Pertumbuhan Impor Kedelai AS ke Indonesia

Ke depan, Akindo menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk menjaga kelancaran distribusi, ketersediaan stok, serta stabilitas harga kedelai demi menjaga keberlangsungan usaha perajin tahu dan tempe nasional selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026.

Selanjutnya: Tren Warna Pink Hangat yang Bikin Ruang Tamu Terasa Fungsional di 2026

Menarik Dibaca: Tren Warna Pink Hangat yang Bikin Ruang Tamu Terasa Fungsional di 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×