kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

Porsi Impor Minyak RI dari Timur Tengah 25%, Pemerintah Siapkan Skenario Ini


Selasa, 03 Maret 2026 / 20:42 WIB
Porsi Impor Minyak RI dari Timur Tengah 25%, Pemerintah Siapkan Skenario Ini


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan porsi impor minyak mentah (crude oil) Indonesia dari Timur Tengah hanya sekitar 20%–25% dari total impor.

Hal ini disampaikan Bahlil menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20% sampai 25%.

Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20% sampai 25% dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Bahlil Wanti-Wanti Subsidi Energi Bengkak

“Dari total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20% sampai 25%. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20% sampai 25% dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Artinya, secara keseluruhan ketergantungan langsung Indonesia terhadap pasokan yang melewati Selat Hormuz berada di kisaran seperempat dari total impor crude. Sisanya berasal dari berbagai negara di luar kawasan konflik.

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sekitar 20,1 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan minyak global melintasi jalur tersebut.

Penutupan selat akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran pun memicu kekhawatiran gangguan suplai global.

Baca Juga: Jelang Idulfitri, Pemerintah Pastikan Cadangan BBM Lampaui Batas Minimum 21 Hari

Meski porsi impor Indonesia dari kawasan tersebut tidak dominan, pemerintah tetap menyiapkan langkah mitigasi. Dalam rapat perdana Dewan Energi Nasional (DEN) yang digelar atas arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah membahas dampak dinamika global terhadap ketahanan energi nasional.

Salah satu skenario yang disiapkan adalah mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat guna memastikan kepastian pasokan.

“Nah, dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita,” tandas Bahlil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×