kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.135   21,00   0,12%
  • IDX 7.492   33,02   0,44%
  • KOMPAS100 1.036   6,45   0,63%
  • LQ45 745   -1,30   -0,17%
  • ISSI 271   2,06   0,77%
  • IDX30 400   -0,76   -0,19%
  • IDXHIDIV20 486   -4,06   -0,83%
  • IDX80 116   0,41   0,36%
  • IDXV30 135   -0,20   -0,15%
  • IDXQ30 128   -1,10   -0,85%

Produsen Mainan Lokal KianTerdesak Produk Impor


Jumat, 26 Maret 2010 / 11:09 WIB


Reporter: Herlina KD | Editor: Test Test

JAKARTA. Industri mainan anak-anak nampaknya harus menelan pil pahit. Pasalnya,pemberlakuan pasar bebas ASEAN China membuat produk mainan anak-anak dari lokal kian terdesak.

Ketua Umum Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (Apmeti) Dhanang Sasongko mengatakan, saat ini produksi setiap perusahaan mainan lokal menyusut hingga setengahnya. Jika pada 2008-2009 setiap pabrik mainan bisa memproduksi sekitar 10.000 unit mainan per bulan, kini produksi ini menyusut menjadi 5.000 unit per bulan.

Tak hanya itu, jumlah produsen mainan lokalpun ikut menyusut. Berdasarkan data Apmeti, tahun 2009 terdapat sekitar 80 perusahaan pembuat mainan anak-anak, saat ini jumlahnya tinggal 61 perusahaan. "Sebagian dari perusahaan ini memilih jadi importir mainan," ujar Dhanang.

Dhanang menambahkan, nilai impor mainan anak-anak tahun 2009 lalu sebesar US$ 32,9 juta. Dari jumlah itu, Dhanang bilang sebanyak 80% nya berasal dari China. Membanjirnya produk mainan anak-anak dari China ini membuat produk mainan lokal hanya mengandalkan pangsa pasar pendidikan.

Dhanang menuturkan, permintaan mainan anak-anak akan naik sekitar 3 -4 kali lipat pada musim ajaran baru. "Kalau musim natal dan tahun baru, permintaan bisa naik dua kali lipat," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×