kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.939   104,00   0,58%
  • IDX 6.299   -76,31   -1,20%
  • KOMPAS100 819   -14,09   -1,69%
  • LQ45 623   -9,92   -1,57%
  • ISSI 219   -2,18   -0,99%
  • IDX30 345   -5,37   -1,53%
  • IDXHIDIV20 429   -4,96   -1,14%
  • IDX80 93   -1,50   -1,58%
  • IDXV30 117   -1,48   -1,24%
  • IDXQ30 111   -1,66   -1,48%

Proper dan ESG Makin Terhubung, Ini Tantangan bagi Dunia Usaha


Kamis, 24 September 2026 / 15:51 WIB
Proper dan ESG Makin Terhubung, Ini Tantangan bagi Dunia Usaha
ILUSTRASI. IDSurvey atau Biro Klasifikasi Indonesia (Dok/BKI)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

​KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dunia usaha didorong tidak berhenti pada pemenuhan regulasi lingkungan, tetapi mulai mengintegrasikan inovasi lingkungan dan sosial ke dalam strategi bisnis. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat daya saing sekaligus menciptakan nilai ekonomi dalam jangka panjang.

Dorongan tersebut mengemuka dalam seminar “Beyond Compliance: Innovation for Sustainable Business and Resilient Community” yang digelar PT SUCOFINDO (Persero) di Nusa Dua, Bali, Kamis (24/9/2026), sebagai bagian dari rangkaian Road to Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2026.

Baca Juga: Kadin Genjot Ekspor Indonesia, Bakal Bidik Tekstil, Elektronik hingga Mineral Kritis

Direktur Utama PT SUCOFINDO (Persero) Sandry Pasambuna mengatakan, aspek lingkungan dan sosial perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar kewajiban untuk memenuhi regulasi.

“Kinerja lingkungan dan sosial semestinya ditempatkan sebagai bagian dari strategi untuk membangun ketahanan dan menciptakan nilai jangka panjang. Compliance adalah titik awal, inovasi adalah langkah berikutnya, dan keberlanjutan adalah tujuan yang ingin kita capai bersama,” ujarnya dalam keterangannya.

Salah satu isu yang dibahas dalam seminar tersebut adalah perkembangan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER).

Narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Edward Nixon Pakpahan, memaparkan implementasi Permen LH/BPLH Nomor 7 Tahun 2025 yang memperbarui sejumlah kriteria penilaian PROPER.

Baca Juga: APSyFI: BUMN Tekstil Danantara Sebaiknya Gandeng Industri Existing

Menurut Edward, PROPER terus berkembang untuk mendorong perusahaan melampaui kepatuhan lingkungan melalui penerapan eco-innovation, inovasi sosial, nilai ekonomi karbon, hingga green leadership.

Penguatan keterkaitan antara kinerja lingkungan dan pelaporan keberlanjutan juga menjadi bagian dari perkembangan tersebut.

“PROPER terus berkembang sebagai instrumen yang mendorong transformasi kinerja lingkungan perusahaan. Melalui pembaruan kriteria yang lebih komprehensif, kami berharap dunia usaha dapat semakin inovatif dalam menciptakan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan,” tuturnya.

Edward juga menyoroti pentingnya integrasi PROPER dengan penerapan environmental, social, and governance (ESG) serta kewajiban pelaporan keberlanjutan bagi perusahaan publik.

Integrasi tersebut diarahkan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas kinerja keberlanjutan perusahaan.

Baca Juga: AUTO Perkuat Bisnis Komponen, Bidik Pertumbuhan dari OEM hingga Aftermarket

Dorong nilai ekonomi

Pakar Manajemen Lingkungan Sudharto P. Hadi mengatakan, pendekatan keberlanjutan menuntut perusahaan bergerak dari pola reaktif menjadi proaktif.

Perubahan juga mencakup pergeseran dari model ekonomi linear menuju ekonomi sirkular serta integrasi inovasi lingkungan dan sosial ke dalam strategi bisnis.

Beyond compliance berarti perusahaan tidak berhenti pada pemenuhan regulasi. Perusahaan perlu menciptakan inovasi yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial dan lingkungan,” jelasnya.

Baca Juga: GEBRAK Sebut Bisnis Vape Masih Menjanjikan, Regulasi Jadi Kunci

Dari sisi inovasi sosial, Project Manager Konsultansi PROPER PT SUCOFINDO (Persero) Retno Suryani mengatakan program pemberdayaan masyarakat perlu menghasilkan perubahan yang terukur dan berkelanjutan.

Salah satu pendekatan yang dibahas adalah penguatan program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) untuk kelompok rentan. Menurut Retno, inovasi sosial perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, meningkatkan kapabilitas kelompok sasaran, serta memperkuat modal sosial dan ekonomi.

“Inovasi sosial tidak lagi cukup dipandang sebagai program pendamping. Saat ini, inovasi sosial menjadi instrumen penting untuk menciptakan dampak yang terukur dan berkelanjutan,” paparnya.

Sementara itu, Head of the GHG Validation and Verification Operations Subdivision PT SUCOFINDO (Persero) Fajar Firstya Adam menyoroti peran Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dalam mendorong investasi dan pengembangan teknologi rendah emisi.

Baca Juga: Cadangan BBM Indonesia Cuma Cukup 18-21 Hari, Pengamat Ungkap Level yang Ideal

Menurut Fajar, mekanisme karbon dapat memberikan insentif bagi perusahaan untuk melakukan pengurangan emisi secara terukur. Pada saat yang sama, kinerja lingkungan dapat dikaitkan dengan nilai ekonomi dan daya saing perusahaan.

“NEK memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengubah kinerja lingkungan menjadi nilai ekonomi. Dengan mekanisme yang kredibel dan berintegritas, dunia usaha dapat mempercepat upaya dekarbonisasi, memperkuat implementasi ESG, sekaligus meningkatkan daya saing pada era ekonomi rendah karbon,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×