kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

REI: Izin kepemilikan tanah banyak birokrasi


Selasa, 06 Mei 2014 / 13:31 WIB
ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi keuangan di kantor cabang BRI Tangerang Selatan, Jumat (23/10). Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) akhirnya memperpanjang restruk /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/23/10/2020.


Sumber: TribunNews.com | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Pengusaha properti yang tergabung dalam asosiasi Real Estate Indonesia (REI) mengungkapkan, birokrasi untuk mendapat izin kepemilikan tanah masih sangat sulit. Hal itu membuat pengusaha properti kesusahan membangun perumahan.

Ketua Umum DPP REI Eddy Hussy menjelaskan, jika izin kepemilikan tanah untuk rumah belum didapatkan, para pengusaha properti harus merogoh kantong mereka lebih banyak lagi.

"Memang waktu itu bagi pengusaha pekerjaan sangat memakan biaya sangat tinggi," ujar Eddy di Hotel Century, Selasa (6/5/2014).

Eddy memaparkan jika semakin lambat perizinan didapatkan, pengusaha properti harus menyiapkan anggaran lebih besar lagi. Karena setelah mendapatkan perizinan, pengusaha properti juga harus melakukan pembebasan lahan.

"Kalau ditanya berapa besar susah diukur karena lambatnya satu perizinan nambah biaya bagi pengusaha," ungkap Eddy.

Eddy pun memaparkan pihaknya sudah berusaha agar bisa mempercepat dan memangkas birokrasi perizinan tanah. Salah satu caranya berkoordinasi dengan lembaga pertanahan dan pemerintah daerah.

"Kita tahu bagaimana semua pihak mempercepat semua itu," papar Eddy. (Adiatmaputra Fajar Pratama)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×