kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.997.000   -24.000   -0,79%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

RI-Singapura Lanjutkan Rencana Ekspor Listrik Bersih, Harga Masih Jadi Tantangan


Minggu, 15 Maret 2026 / 12:44 WIB
RI-Singapura Lanjutkan Rencana Ekspor Listrik Bersih, Harga Masih Jadi Tantangan
ILUSTRASI. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (KONTAN/Sabrina Rhamadanty)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dikabarkan telah melakukan pertemuan dengan Minister for Manpower sekaligus penanggung jawab energi Singapura, Tan See Leng di Tokyo, Jepang pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat untuk membahas mengenai kelanjutan rencana ekspor listrik bersih dari Indonesia ke Singapura.

Bahlil menyebut, kerjasama ini bukan sekadar sebagai perdagangan energi, tetapi juga sebagai pengungkit masuknya investasi industri berteknologi tinggi. Tapi juga merupakan bentuk memanfaatkan ketersediaan energi hijau untuk menarik perusahaan-perusahaan global membangun fasilitas produksi dan pusat teknologi di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). 

“Saya sudah mendapat laporan bahwa kawasan industri sudah hampir final. Nanti kita akan bangun di wilayah Kepri (Kepulauan Riau). Dan ini saya lagi meng-clear-kan. Kalau itu sudah selesai, maka saya pikir ini salah satu kemajuan dalam persiapan,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulis, Minggu (15/3/2026) waktu setempat. 

Baca Juga: Suryacipta Bidik Ekspansi Investasi di Subang

Senada dengan hal tersebut, Minister Tan See Leng menyambut baik progres teknis terkait kerja sama ini.

“Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik,” ujar Tan See Leng. 

Dalam pertemuan itu, kedua negara juga menyinggung pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Batam, Bintan, dan Karimun.

Pemerintah menyiapkan skema agar kebutuhan listrik dalam negeri tetap diprioritaskan sebelum ekspor, sekaligus membuka peluang kerja sama teknologi rendah karbon seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Storage/CCS).

“Yang menyangkut CCS, aturan-aturannya sudah saya persiapkan. Itu kemudian bisa kita lakukan kolaborasi,” ujar Bahlil. 

Hal lain yang juga menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan ini adalah terkait ekspor listrik. Bahlil menawarkan ekspor listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sejalan dengan program kelistrikan 100 gigawatt (GW) yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan domestik dan juga dapat diekspor ke negara tetangga.

Baca Juga: Geopolitik Kembali Ingatkan Diversifikasi Energi, Kendaraan Listrik Bisa Jadi Pilihan

Namun, terdapat tantangan dari segi harga, di mana harga energi hijau lebih mahal daripada harga energi fosil. 

Menutup pertemuan, kedua menteri sepakat bahwa sinergi ini adalah pembuktian kepemimpinan energi di ASEAN. Dengan dukungan teknis dan investasi dari Singapura serta sumber daya melimpah dari Indonesia, visi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau kini berada di jalur yang tepat.

Implementasi nyata melalui pilot project di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun diharapkan dapat segera dimulai dalam waktu dekat sebagai bukti konkret dari tiga Memorandum of Understanding (MOU) yang telah ditandatangani sebelumnya.

Dalam catatan Kontan sebelumnya, pada Juni 2025 lalu telah dilakukan MoU antara Bahlil dengan Tan See Leng, terkait ekspor listrik. Adapun, potensi investasi dari MoU ini adalah di atas US$ 10 miliar atau setara dengan Rp 163 triliun (kurs rupiah US$ 1 = Rp 16.300).

"Investasi dari total (proyek) ini diperkirakan di atas US$ 10 miliar, dari tiga proyek ini," ungkap Bahlil usai penandatanganan MoU di Kantor ESDM, Jumat (13/62026).

Dua MOU lainnya, yaitu terkait Zona Industri Berkelanjutan dan Kerja Sama dalam Penangkapan dan Penyimpanan Karbon Lintas Batas atau Carbon Capture and Storage (CCS).

Baca Juga: Akses Tol Dibuka, Kunjungan ke Tanjung Lesung Diproyeksi Capai 25.000 Wisatawan

Terkait MOU Zona Industri Berkelanjutan (ZIB) misalnya, Bahlil bilang, ini adalah bentuk timbal balik Singapura kepada Indonesia.

"Saya katakan dalam berbagai kesempatan, bahwa hubungan kerjasamanya harus kita lakukan, tapi win-win. Kita kirim listrik ke saudara kita di Singapura, dalam hasil negosiasi nanti pemerintah Singapura bersama-sama dengan Indonesia untuk membangun kawasan industri bersama," jelas Bahlil.

Kemudian terkait MOU CCS, kata Bahlil, kerjasama ini perlu dilakukan, agar produk industri yang diproduksi dapat didukung dengan pendekatan green industry.

"Kita juga harus atau mau membuka diri untuk menerima program dan kerjasama terhadap CCS. Di dunia sekarang, tidak akan mungkin sebuah produk industri itu kompetitif dengan produk-produk lain di dunia, kalau tidak memakai energi baru terbarukan," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×