kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.864   21,00   0,12%
  • IDX 8.185   -80,68   -0,98%
  • KOMPAS100 1.153   -14,56   -1,25%
  • LQ45 829   -10,07   -1,20%
  • ISSI 293   -2,60   -0,88%
  • IDX30 432   -4,08   -0,93%
  • IDXHIDIV20 517   -3,91   -0,75%
  • IDX80 129   -1,65   -1,27%
  • IDXV30 142   -0,57   -0,40%
  • IDXQ30 140   -1,33   -0,95%

Rumah Tapak Harga Rp 600 Juta-Rp 1,3 Miliar di Jabodetabek Paling Diminati


Kamis, 12 Februari 2026 / 20:12 WIB
Rumah Tapak Harga Rp 600 Juta-Rp 1,3 Miliar di Jabodetabek Paling Diminati
ILUSTRASI. Pembangunan perumahan di Depok (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar properti residensial, khususnya rumah tapak di kawasan Jabodetabek nampak stabil di semester II-2025. Hal ini nampak dari tingkat penjualan yang terjaga, di tengah ketidakpastian ekonomi dan kehati-hatian konsumen.

Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, Milda Abidin menjelaskan, penjualan rumah tapak masih sejalan dengan suplai baru yang masuk tercapai. Artinya, sebagian besar unit yang diluncurkan mampu terserap pasar dalam periode yang sama.

“Kalau melihat data semester II-2025, suplai dan demand itu relatif seimbang. Tidak ada lonjakan agresif, tetapi juga tidak terjadi penumpukan stok yang mengkhawatirkan. Ini yang membuat kinerja rumah tapak terlihat stabil,” ungkap Milda, dalam media briefing, pada Kamis (12/2/2026). 

Baca Juga: Pelindo Optimalkan Tol Cibitung–Cilincing untuk Tekan Biaya Logistik

Jika merujuk data yang dipaparkan, rata-rata tingkat penjualan rumah tapak mencapai 88% pada tahun 2025. Artinya, dari seluruh unit yang dipasarkan, 88% telah terjual.

Berdasarkan data penjualan semester II-2025, penjualan rumah tapak didominasi oleh unit dengan segmen harga Rp 600 juta-Rp 1,3 miliar, dengan porsi 47% dari total unit yang terjual. 

Kemudian, disusul segmen menengah dengan rentang harga di bawah Rp 600 juta dengan porsi 27%. Sementara itu, unit dengan harga Rp 1,3 miliar-Rp 2 miliar haya terjual 12%, begitu pun harga unit di atas Rp 3 miliar yang hanya terserap sekitar 5%. 

Milda menyebut, permintaan unit rumah tapak dengan rentang harga Rp 600 juta-Rp 1,3 miliar mencatatkan performa cukup baik, terutama di lokasi dengan akses infrastruktur memadai, seperti dekat jalan tol, stasiun KRL, maupun rencana pengembangan LRT.

“Segmen middle-up cenderung lebih tahan terhadap gejolak. Pembelinya memang lebih selektif, tetapi ketika produknya tepat dari sisi lokasi, konsep, dan harga, keputusan pembeliannya relatif lebih cepat,” jelasnya.

Konsumen pada segmen ini juga umumnya membeli untuk ditinggali (end-user), bukan semata investasi. Karena itu, faktor lingkungan, kualitas bangunan, reputasi pengembang, hingga fasilitas kawasan menjadi pertimbangan utama.

Di sisi lain, segmen menengah dan menengah bawah tetap menunjukkan pergerakan, terutama didorong faktor keterjangkauan harga dan dukungan pembiayaan. Namun dari sisi nilai transaksi, kontribusi segmen middle up masih mendominasi total penjualan.

Baca Juga: Status Tambang Emas Martabe di Indonesia Perkuat Potensi Pengembalian Izin

JLL Indonesia juga memandang minat pengembang untuk meluncurkan proyek baru masih cukup tinggi. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan peluncuran proyek township baru seluas 150 hektare di Bogor hasil kolaborasi pengembang lokal dan mitra Jepang. 

Adapun, untuk menjaga daya beli, pengembang cendurung semakin agresif menawarkan skema pembayaran fleksibel. 

Mulai dari cicilan bertahap, tenor yang diperpanjang, hingga kerja sama dengan beberapa bank untuk mempermudah akses KPR.

Selanjutnya: Menilik Dampak Perilisan Shareholders Concentration List ke Pasar Saham

Menarik Dibaca: Makuku Luncurkan Comfort Fit, Popok Tipis Anti Bocor untuk Anak Aktif Sepanjang Hari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×