Reporter: Hervin Jumar | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan belum membawa dampak langsung terhadap harga bahan pangan di pasar tradisional.
Kendati harga pangan relatif aman dari sentimen kurs, para pedagang pasar justru menyoroti lonjakan tajam pada komoditas hortikultura, khususnya bawang merah yang kini harganya sudah menembus Rp60.500 per kilogram (kg).
Baca Juga: PalmCo Klaim, Fasilitas Baru di Surabaya Pangkas Biaya Logistik Minyak Goreng 40%
Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan mengakui bahwa hingga awal Juni ini gejolak kurs belum dirasakan di tingkat pedagang eceran.
Menurutnya, pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha, sebagian besar komoditas pangan pokok justru mengalami tren penurunan harga akibat meredanya volume permintaan dari masyarakat.
"Kami lihat belum terasa dampaknya (dari pelemahan rupiah). Yang kami soroti saat ini justru bawang merah, di mana kenaikannya mencapai 50% hingga menyentuh Rp60.000-an. Itu yang menurut kami naiknya luar biasa," ujar Reynaldi saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (7/6/2026).
Baca Juga: KKP Percepat Pembangunan K-SIGN Rote Ndao untuk Kejar Swasembada Garam 2027
Tren Pasca-Idul Adha dan Daftar Harga Komoditas
Reynaldi memproyeksikan harga mayoritas kebutuhan pokok akan cenderung melandai dan stabil dalam beberapa pekan ke depan karena faktor musiman terlewatinya hari raya. Namun, pengecualian besar terjadi pada bawang merah.
Berdasarkan data pemantauan pasar yang dihimpun oleh Ikappi per Juni 2026, berikut adalah rincian harga komoditas pangan di pasar tradisional:
- Bawang Merah: Rp60.500 per kg (mengalami lonjakan tertinggi)
- Cabai Rawit Merah: Rp84.000 per kg
- Cabai Merah Besar: Rp71.000 per kg
- Cabai Merah Keriting: Rp65.000 per kg
- Bawang Putih: Rp42.500 per kg
- Daging Ayam Ras: Rp41.500 per kg
- Telur Ayam Ras: Rp28.000 per kg
- Minyak Goreng Curah: Rp21.900 per liter
- Minyakita: Rp16.000 – Rp17.000 per liter
Baca Juga: Jetour Ramaikan Persaingan SUV China di Indonesia, Bidik Penjualan 1.000 Unit T1
Desakan Penguatan Sentra Pertanian dan Jalur Distribusi
Menyikapi lonjakan pada komoditas hortikultura di pertengahan tahun ini, Ikappi mendesak pemerintah untuk segera melakukan intervensi pada lini hulu (sentra produksi) serta memetakan jalur distribusi pangan nasional secara taktis.
Reynaldi mencontohkan, komoditas cabai yang mayoritas diproduksi di Pulau Jawa dan Sulawesi memerlukan dukungan logistik dan kelancaran distribusi menuju wilayah konsumen tingkat tinggi seperti Jabodetabek.
Sementara untuk bawang merah, pasokan dari sentra produksi utama seperti Brebes, Jawa Tengah, harus dipastikan tidak mengalami kendala gagal panen.
"Kami mendorong pemerintah agar para pedagang pasar tradisional mendapatkan kepastian pasokan mata dagangan," tutur Reynaldi.
Baca Juga: Integrated Healthcare Indonesia (IHI) Gandeng Sun Energy, Operasikan PLTS 777,98 kWp
Mendag Pastikan Stok Pangan Nasional Aman
Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai pelemahan kurs rupiah sejauh ini belum mengganggu aktivitas perdagangan domestik maupun daya beli masyarakat secara makro.
Pemerintah memastikan terus berkoordinasi dengan para importir dan produsen untuk memantau pergerakan pasokan bahan baku industri makanan.
"Kami terus memonitor distribusi dan pasokan bahan baku bersama para produsen. Yang terpenting jangan sampai terjadi gangguan pasokan atau kekosongan stok di pasar tradisional," tegas Budi.
Kementerian Perdagangan menambahkan bahwa secara keseluruhan stok pangan pokok nasional berada dalam kategori aman. Bahkan, beberapa komoditas seperti telur ayam ras saat ini sedang mengalami surplus pasokan dari peternak.
Tantangan utama kementerian saat ini adalah menjaga keseimbangan supply dan demand agar volatilitas harga di tingkat konsumen tetap stabil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













