Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.180
  • SUN95,68 0,00%
  • EMAS666.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Semester I, ekspor minyak sawit Indonesia turun 2%

Jumat, 27 Juli 2018 / 13:25 WIB

Semester I, ekspor minyak sawit Indonesia turun 2%
ILUSTRASI. Kelapa sawit

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspor minyak sawit Indonesia, yakni crude palm oil (CPO), palm kernel oil (PKO) dan turunannya termasuk olekimia dan biodiesel, pada enam bulan pertama tahun ini menurun 2% dibandingkan tahun mencapai 15,30 juta ton dari tahun lalu yang sebesar 15,62 juta ton.

Dari ekspor tersebut, volume ekspor CPO, PKO dan turunannya selain oleokimia dan biodiesel pada semester I ini tercatat menurun 6% menjadi 14,16 juta ton dari 15,04 juta ton di semester I 2017.

Pasar India pun kurang menggembirakan di semester I tahun. Pasalnya, ekspor ke India dalam enam bulan pertama menurun signifikan takni sebesar 34% dari 3,74 juta ton menjadi 2,50 juta ton.

“Tergerusnya pasar India terutama disebabkan tingginya bea masuk yang diterapkan India untuk minyak sawit dengan alasan untuk melindungi industri refinery di dalam negeri,” ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono seperti yang tertera salam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Jumat (27/7).

Ekspor minyak sawit Uni ke Eropa pun terganggu akibat isu deforestasi dan juga kebijakan penghapusan biofuel berbasis pangan oleh Parlemen Eropa. Akibatnya, di semester I ini ekspor CPO dan produk turunannya ke Uni Eropa menurun 12% dari 2,71 menjadi 2,39 juta ton. GAPKI pun mencatat penurunan ekspor ke Afrika sebesar 10%.

Meski begitu, beberapa negara justru menunjukkan peningkatan impor. China misalnya. Negara ini mencatat kenaikan impor CPO sevesar 23% dDi 1,48 juta ton menjadi 1,82 juta ton. “Kenaikan volume impor minyak sawit China karena adanya penurunan pajak pertambahan nilai untuk minyak nabati dari 11% menjadi 10% yang efektif berlaku sejak 1 Mei 2018. Selain itu eskalasi perang dagang antara Negeri Tirai Bambu ini dengan Negeri Paman Sam juga ikut mempengaruhi permintaan minyak sawit mentah dan turunannya,” ujar Mukti.

China pun mengimpor biodiesel dari Indonesia untuk pertama kalinya sejak perang dagang berlangsung. Volume biodiesel yang diimpor cukup signifikan yaitu sebesar 185.860 ton. GAPKI memperkirakan, jika perang dagang terus berlanjut, prospek pasar minyak sawit dan biodiesel ke China akan cerah.

Ekspor CPO dan produk turunannya ke Amerika Serikat di semester I ini pun meningkat 13% dari 542.700 ton menjadi 611.080 ton. Meski saat ini ekspor meningkat, namun diperkirakan negara ini akan mengurangi impor minyak nabatinha. Pasalnya, penjualan kedelai AS ke China tersendat yang mengakibatkan meningkatkan stok kedelai di AS.

Ekspor minyak sawit Indonesia juga meningkat ke negara ekspor linnya seperti ke Bangladesh yang meningkat sebesar 31%, Paskistan 7%, dan negara Timur Tengah 4%.

Dilihat dari ekspor per Juni 2018, Volume ekspor CPO dan produk turunnya meningkat 7% dibandingkan Mei 2018 yakni dari 2,14 juta ton menjadi 2,29 juta ton.

Pada Juni ini, India menaikan impor minyak sawitnya sebesar 95% dibanding dengan bulan sebelumnya atau dari 240.160 ribu ton naik menjadi 467,81 ribu ton. Selain India, peningkatan ekspor CPO dan produk turunannya pada Juni juga dialami oleh China sebesar 35%, Uni Eropa 24%, Amerika 9% dan Pakistan 2%.

Sementara itu produksi minyak sawit Indonesia pada semester pertama tahun ini meningkat 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi semstter I tahun ini telah mencapai 22,32 juta ton dari tahun sebelumnya sebesar 18,15 juta ton. Meningkatnya produksi ini karena faktor cuaca yang mendukung dan pengaruh El Nino pada tahun sebelumnya sudah mulai hilang.

Khusus Juni, produksi CPO dan PKO diperkirakan turun 7% dibanding bulan sebelumnya yakni dari 4,24 juta ton turun menjadi 3,95 juta ton. Stok minyak sawit terus menunjukan tren naik dan mencapai angka tertinggi pada Juni ini di 4,85 juta ton.

Dari sisi harga, sepanjang semester pertama 2018 harga bergerak di kisaran US$ 605 – US$ 695 per metrik ton. Harga CPO global terus tertekan sejak awal Desember 2017 yang sampai semester pertama 2018 tidak pernah menembus US$ 700 per metrik ton. Lesunya harga CPO ini dikarenakan stok komoditi penghasil minyak nabati melimpah.


Reporter: Lidya Yuniartha
Editor: Sanny Cicilia
Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.0654 || diagnostic_web = 0.4784

Close [X]
×