Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.175
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Si pendengar media sosial yang menganalisis

Minggu, 13 Agustus 2017 / 19:48 WIB

Si pendengar media sosial yang menganalisis

Hari ini, tidak kurang dari 100 miliar pencarian di Google per bulan, atau sekitar 2,3 juta per detik. Dan, 60 triliun halaman web terdaftar di situs pencari paling populer sejagad itu.

Angka-angka ini baru dari pencarian berbasis Google. Tak heran, Big Data menjadi salah satu topik utama seminar di dunia selama tiga hingga lima tahun terakhir. Sehingga tidak bisa dihindari lagi, Big Data menjelma jadi “tren baru” dalam era digitalisasi.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana memanfaatkan dan menangani Big Data dari dunia maya. Jawabannya ada pada teknologi social listening tool atau alat pendengar media sosial.

Saat ini, ada lebih dari seratus alat semacam ini yang tersedia di seluruh dunia. Salah satunya: Zanroo. Perangkat monitoring media sosial asal Thailand ini merupakan salah satu pemain terbaik.

Pengembangnya adalah Zanroo Limited. Perusahaan rintisan alias startup dari negeri gajah putih ini mengembangkan alat untuk membantu Anda mendengarkan dan menelusuri tren yang terjadi di media sosial saat ini secara real-time.

Bukan cuma mengumpulkan topik-topik yang sedang jadi perbincangan di jejaring sosial, Zanroo juga menganalisis dan mengategorikan informasi agar sesuai dengan kebutuhan Anda.

Buat pemilik merek, Zanroo siap mengumpulkan dan menganalisis data konsumen untuk kepentingan kampanye pemasaran brand mereka. Startup yang berdiri 2013 lalu itu mengklaim, layanannya merupakan solusi riset total pasar berbasis teknologi social listening tool untuk mendapat wawasan pemasaran dari interaksi media sosial.

Pertengahan Juli lalu, Zanroo mengumumkan, mereka baru saja mengantongi dana segar untuk pertama kalinya dari investor. Pendanaan senilai US$ 7,4 juta tersebut berasal dari Shift Ventures.

Chitpol Mungprom, Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Zanroo, mengatakan, perusahaannya bakal memakai uang itu untuk mengembangkan produk inovatif baru serta memperluas tim dan pasar global, termasuk Amerika Serikat, Eropa, juga China. Startup teknologi pemasaran ini bercita-cita hadir di lebih dari 40 negara pada 2019.

Saat ini, Zanroo sudah bercokol di 15 negara termasuk Indonesia, dengan total pendapatan tahun lalu mencapai 100 juta bath. Pelanggan Zanroo adalah perusahaan barang konsumsi, bank, ritel, real estat, serta otomotif. Misalnya, L’Oréal dan PepsiCo.

Kembangkan Arun

Produk baru Zanroo adalah Arun, terinspirasi dari Wat Arun (Kuil Fajar) yang ada di Bangkok. Zanroo pertama kali memperkenalkan Arun di konferensi The MarTech, San Francisco, Maret lalu, dan sudah memiliki 200 calon konsumen di Amerika Serikat.

Startup yang bermarkas di Bangkok ini terus mengembangkan Arun yang rencananya akan resmi meluncur akhir 2017. “Arun menggabungkan dan mengintegrasikan semua alat media sosial, termasuk social listening dan social engagement, menjadi satu platform,” kata Chitpol yang juga Founder dan CEO Internet-Based Business Group, operator Zanroo, seperti dikutip Bangkok Post.

Kelak, Zanroo dan Arun bakal berbagi tugas. Zanroo akan memecahkan tantangan data, sementara Arun bakal fokus ke pasar global untuk mengatasi tantangan bisnis.

Dengan memanfaatkan Arun, perusahaan bisa membuat terobosan di pasar global yang besar. Tapi, Arun lebih dulu fokus di pasar Asia sebelum masuk ke China pada akhir 2017 kemudian pasar Amerika Serikat di awal 2018.

“Kami telah memiliki mitra bisnis di China. Mereka salah satu pemain terbesar di pasar dengan basis pelanggan besar untuk kita,” ujar Chitpol.

Arun juga akan membantu usaha kecil dan menengah (UKM) meraup keuntungan dari platform pendengar sosial media yang telah menjadi alat dasar bagi semua bisnis ini. “Menembus pasar UKM adalah langkah selanjutnya yang akan kami capai pada kuartal kedua tahun depan,” imbuh Chitpol.

Di 2017, Zanroo menargetkan pendapatan 260 juta bath dan menembus miliar bath pada 2019. “Kami akan menjadi salah satu dari 10 perusahaan teknologi pemasaran teratas di dunia pada 2020. Kami juga menginginkan Zanroo sebagai merek Thailand pertama yang menjadi unicorn, startup dengan valuasi di atas US$ 1 miliar,” ungkap Chitpol.

Menurut Worawisut Pinyo-yang, CEO Shift Ventures, Zanroo memiliki potensi besar sebagai startup. Perusahaan rintisan ini mampu mendulang pendapatan hingga 1 juta bath di tahun pertama beroperasi. “Zanroo adalah alat pemasaran fundamental untuk bisnis di era digital,” katanya seperti dilansir The Nation.              


Reporter: SS. Kurniawan
Editor: S.S. Kurniawan
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0611 || diagnostic_web = 0.3113

Close [X]
×